LARANGAN, BANTENEKSPRES.CO.ID – Menghadapi tantangan kejenuhan siswa dalam proses belajar mengajar, SDN Larangan 6 menerapkan metode pembelajaran kolaboratif untuk menciptakan interaksi dua arah antara siswa dan guru.
Guru Kelas 5 SDN Larangan 6, Ruliya, menjelaskan suasana kelas yang hidup menjadi kunci utama agar siswa tetap bersemangat. Jika anak-anak mulai terlihat jenuh, ia segera melakukan tindakan reflektif untuk mengembalikan fokus mereka.
“Jadi kalau anak-anak terlihat sudah bosan, nanti diadakan ice breaking. Ice breaking itu kan refleksi. Jadi anak-anak biar semangat, kita ice breaking dulu sebentar dibuat permainan seperti senam, gerak tubuh, atau tepuk tangan,” ujar Ruliya, Rabu 20 Mei 2026.
Selain itu, Ruliya menekankan pentingnya variasi metode mengajar agar siswa tidak merasa monoton. Salah satu yang menjadi andalan adalah mengajak siswa melakukan penemuan mandiri melalui analisis masalah secara berkelompok.
“Kita menggunakan metode yang bermacam-macam. Jadi ada kolaborasi, mereka melakukan penemuan. Kebetulan ini kan kelas 5, jadi mereka dilemparkan soal, mereka menganalisis dan mereka bekerja sama kelompok,” jelasnya.
Dikatakan Ruliya, penerapan sistem kolaborasi ini memungkinkan setiap siswa untuk berani berbicara. Ia juga membagi kelas ke dalam beberapa kelompok kecil di mana setiap anggota wajib memberikan kontribusi pemikiran mereka masing-masing.
Menurut Ruliya, perbedaan pendapat antar siswa justru menjadi bahan diskusi yang menarik. “Jadi kan ada pemikiran siswa A, B, dan C kemudian dikolaborasi menjadi satu, jadi kesimpulan. Mereka membuat kesimpulan sendiri, nanti mereka belajar untuk mempresentasikan ke depan kelas,” tambahnya.
Lebih lanjut, kata Ruliya, proses ini tidak berhenti pada presentasi saja, melainkan berlanjut ke sesi diskusi antar kelompok. Siswa dari kelompok lain diberikan ruang untuk menanggapi hasil kerja rekannya, sehingga tercipta komunikasi yang dinamis dan kritis.
Ruliya menilai metode ini sangat efektif untuk mengikis kejenuhan. Dengan adanya interaksi antar teman, siswa merasa lebih terlibat dan memiliki tanggung jawab atas hasil belajar yang mereka temukan secara mandiri bersama kelompoknya.
Selain aspek kognitif, metode kolaboratif ini juga dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Ruliya menekankan semangat kekeluargaan dan persatuan agar tidak ada sekat atau pengelompokan berdasarkan latar belakang tertentu di antara siswa.
“Kita tumbuhkan bahwa mereka itu adalah saudara. Jadi persatuan kesatuannya dijalin bagaimana caranya anak-anak itu bersama teman itu dekat. Tidak hanya laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, atau pilih yang agamanya sama,” tegasnya terkait pembentukan karakter siswa.
Ke depan, dengan pendekatan yang interaktif dan kolaboratif ini, SDN Larangan 6 optimis dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi dan kerja sama tim yang kuat di masa depan. (*)
Reporter: Muhammad Dhuyuf Khuzaimi









