SMPN 1 Sukamulya Imbau Siswa Gunakan HP untuk Belajar Jelang TKA

Siswa-siswi SMPN 1 Sukamulya sedang melakukan simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

SUKAMULYA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kepala SMPN 1 Sukamulya, Agus Sulistiyono, mengimbau para siswa untuk memanfaatkan handphone (HP) sebagai sarana belajar dalam mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sekolah yang berlokasi di Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang ini tengah memperkuat kesiapan siswa melalui berbagai pendekatan, termasuk pemanfaatan teknologi digital, Selasa (31/3/2026).

Ia menegaskan bahwa penggunaan HP di kalangan siswa tidak bisa dihindari, namun harus diarahkan ke hal yang lebih produktif, terutama untuk menunjang pembelajaran.

Bacaan Lainnya

Agus menjelaskan bahwa pihak sekolah telah memberikan arahan kepada siswa, khususnya kelas akhir, agar lebih serius mempersiapkan diri menghadapi TKA melalui latihan soal dan pemanfaatan platform belajar daring.

Ia mengatakan bahwa siswa didorong untuk memperbanyak latihan dan membaca materi, serta tidak ragu bertanya kepada guru apabila mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran.

“Jadi sebisa mungkin intinya harus banyak latihan, banyak baca. Kalau gak ngerti tanya guru, manfaatkan media sosial yang ada,” ujar Agus.

Menurutnya, Kementerian Pendidikan juga telah menyediakan berbagai materi latihan yang bisa diakses secara online, meskipun belum semua siswa mampu memanfaatkannya secara optimal.

Ia menilai, di sinilah peran sekolah dan guru menjadi penting untuk mengarahkan siswa agar tidak hanya menggunakan HP untuk hiburan semata.

Agus mengibaratkan penggunaan HP seperti pisau yang memiliki dua sisi, yakni bisa memberikan manfaat besar jika digunakan dengan bijak, namun juga dapat berdampak negatif jika disalahgunakan.

“Manfaatkan HP karena HP itu sama dengan kayak pisau, ada dua sisi. Jangan hanya untuk game sama YouTube,” katanya.

Selain itu, ia juga mengingatkan siswa terkait penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama di usia remaja yang rentan terhadap pengaruh negatif.

Ia menuturkan bahwa fenomena perundungan (bullying) hingga konflik antar pelajar kerap dipicu dari interaksi di media sosial, seperti saling ejek di platform digital.

“Di Indonesia udah darurat medsos. Anak anteng di sekolah tahu-tahu dari Instagram saling ngejek, ujung-ujungnya bisa tawuran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa sekolah juga mendorong siswa untuk mengikuti simulasi ujian sebagai bagian dari persiapan menghadapi TKA, agar mereka terbiasa dengan sistem berbasis komputer.

Ia menjelaskan, simulasi tersebut penting untuk memberikan gambaran teknis kepada siswa, sehingga tidak mengalami kebingungan saat pelaksanaan ujian sesungguhnya.

Menurutnya, meskipun TKA tidak secara langsung menentukan kelulusan, hasilnya tetap dapat menjadi bahan pertimbangan bagi jenjang pendidikan selanjutnya.

“Meskipun tidak menentukan kelulusan, saya dorong semua siswa baik yang rajin ataupun tidak untuk ikut,” tuturnya.

Ia pun mengingatkan siswa agar tidak menyepelekan kesempatan tersebut dan tetap mengikuti seluruh tahapan yang telah disiapkan sekolah.

“Jadi biarpun ga wajib, jangan menyepelekan, khawatir di jenjang selanjutnya (SLTA) ada sekolah yang minta nolai TKa,” tutupnya. (*)

Pos terkait