Peringati HTBS 2026, Dinkes Kota Tangsel Gencarkan Sinergi Tuntaskan Tuberkulosis

Peringati HTBS 2026, Dinkes Kota Tangsel Gencarkan Sinergi Tuntaskan Tuberkulosis
Kantor Dinas Kesehatan Kota Tangsel. Foto: Tri Budi/Bantenekspres.co.id

SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Pada 2026, peringatan ini mengusung tema “Satu TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB” yang mengajak seluruh elemen untuk bersatu dalam upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan penanggulangan TB harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai sektor.

Bacaan Lainnya

“Penanggulangan TB di Indonesia harus dipimpin oleh negara dan digerakkan secara masif melalui sinergi lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, hingga masyarakat di tingkat kelurahan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Minggu 29 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dalam rangka memperingati HTBS 2026, Dinas Kesehatan Tangsel telah menyiapkan sejumlah kegiatan yang melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan, mitra, serta masyarakat.

Salah satu kegiatan tersebut adalah Pekan Investigasi Kontak Tangerang Selatan (PinTaS) yang akan digelar pada 6–11 April 2026 di seluruh puskesmas dengan melibatkan kader TBC.

Selain itu, Dinkes Tangsel juga menjalankan program SIGAP TBC (Siap Beraksi, Cegah Putus Berobat TBC) yang bertujuan mencegah pasien menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh.

“Kami juga melakukan kampanye digital dengan mengunggah dokumentasi kegiatan investigasi kontak setiap hari melalui media sosial,” tambahnya.

Upaya edukasi kepada masyarakat juga dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk podcast Dinas Kesehatan Tangsel bertajuk PDKT (Podcast Dinas Kesehatan Tangsel) dengan tema Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS): Salam TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh).

Allin menegaskan, hingga saat ini tuberkulosis masih menjadi tantangan serius dalam sistem kesehatan, baik di tingkat nasional maupun global.

Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan beban TB tertinggi di dunia setelah India, dengan estimasi mencapai 1.080.000 kasus baru.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, indikator utama seperti penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan hingga 2024 masih belum mencapai target. Pemerintah sendiri menargetkan penurunan angka insidensi TB menjadi 190 per 100.000 penduduk pada 2030.

“Untuk mencapai target tersebut, akses terhadap diagnosis dini dan pengobatan yang adekuat menjadi sangat krusial,” pungkasnya. (*)

Pos terkait