BANTENEKSPRES.CO.ID – Mabuk perjalanan merupakan kondisi yang cukup umum dialami banyak orang ketika melakukan perjalanan menggunakan kendaraan seperti mobil, bus, kapal, atau pesawat. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala seperti pusing, mual, keringat dingin, hingga muntah. Meski tidak tergolong penyakit serius, mabuk perjalanan sering kali mengganggu kenyamanan dan membuat perjalanan menjadi tidak menyenangkan.
Secara medis, mabuk perjalanan dikenal sebagai motion sickness. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalami kebingungan dalam memproses informasi mengenai gerakan. Otak menerima sinyal yang berbeda dari mata, telinga bagian dalam, dan sistem keseimbangan tubuh sehingga memicu reaksi mual dan pusing.
Salah satu penjelasan ilmiah mengenai kondisi ini dijelaskan dalam penelitian oleh Giovanni Bertolini dan Dominik Straumann dalam jurnal Frontiers in Neurology tahun 2016 yang berjudul Moving in a Moving World: A Review on Vestibular Motion Sickness. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa mabuk perjalanan muncul akibat konflik sensorik antara sistem visual dan sistem vestibular di telinga bagian dalam yang bertugas menjaga keseimbangan tubuh. Ketika kedua sistem tersebut memberikan informasi yang tidak selaras mengenai gerakan, otak meresponsnya dengan gejala mabuk perjalanan.
Contohnya dapat terjadi ketika seseorang membaca buku di dalam kendaraan yang sedang berjalan. Mata melihat halaman buku yang diam, sementara telinga bagian dalam merasakan bahwa tubuh sedang bergerak. Perbedaan informasi inilah yang menyebabkan otak mengalami kebingungan dan akhirnya memicu rasa mual.
Mabuk perjalanan dapat dialami oleh siapa saja, meskipun tingkat kerentanannya berbeda pada setiap orang. Anak-anak dan remaja umumnya lebih rentan mengalami kondisi ini dibandingkan orang dewasa. Selain itu, faktor seperti kelelahan, kurang makan, atau bau yang menyengat di dalam kendaraan juga dapat memperparah gejala mabuk perjalanan.
Salah satu cara paling sederhana untuk mengurangi mabuk perjalanan adalah dengan memilih posisi duduk yang tepat. Duduk di bagian depan kendaraan atau di dekat jendela dapat membantu tubuh menyesuaikan persepsi gerakan dengan apa yang dilihat oleh mata. Ketika mata dapat melihat arah jalan atau horizon, otak lebih mudah menyelaraskan informasi gerakan.
Menghindari aktivitas membaca atau menatap layar ponsel selama perjalanan juga dapat membantu mengurangi risiko mabuk perjalanan. Aktivitas tersebut membuat mata fokus pada objek yang diam, sehingga memperbesar perbedaan informasi antara penglihatan dan sensasi gerakan tubuh.
Menjaga sirkulasi udara di dalam kendaraan juga merupakan hal yang penting. Udara yang segar dapat membantu mengurangi rasa mual dan pusing. Jika memungkinkan, membuka sedikit jendela atau memastikan ventilasi kendaraan berfungsi dengan baik dapat membuat tubuh lebih nyaman selama perjalanan.
Selain itu, mengatur posisi tubuh agar tetap stabil juga dapat membantu. Duduk dengan posisi tegak dan menghindari gerakan kepala yang berlebihan dapat mengurangi rangsangan pada sistem keseimbangan di telinga bagian dalam. Posisi tubuh yang stabil membuat otak lebih mudah memproses sensasi gerakan.
Beberapa orang juga memilih mengonsumsi makanan ringan sebelum melakukan perjalanan. Perut yang terlalu kosong dapat memperparah rasa mual, tetapi makan berlebihan juga tidak disarankan. Makanan ringan dengan porsi yang cukup dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil.
Cara lain yang sering digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan adalah dengan beristirahat atau memejamkan mata sejenak. Ketika mata tidak menerima banyak rangsangan visual, konflik antara sistem penglihatan dan sistem keseimbangan dapat berkurang sehingga gejala mabuk perjalanan dapat mereda.
Dalam beberapa kasus, penggunaan obat antimual juga dapat membantu mengatasi mabuk perjalanan, terutama bagi orang yang sering mengalami kondisi tersebut. Obat ini biasanya bekerja dengan memengaruhi sistem saraf yang mengatur keseimbangan dan respons mual di dalam tubuh.
Namun, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik dibandingkan mengobati gejala yang sudah muncul. Dengan memahami penyebab mabuk perjalanan serta cara tubuh merespons gerakan, seseorang dapat mengambil langkah yang tepat untuk meminimalkan risiko selama perjalanan.
Pada akhirnya, mabuk perjalanan merupakan respons alami tubuh terhadap ketidaksesuaian informasi gerakan yang diterima oleh otak. Meskipun sering dianggap sepele, kondisi ini dapat diatasi dengan berbagai langkah sederhana yang membantu tubuh menyesuaikan diri terhadap lingkungan perjalanan. Dengan persiapan yang tepat, perjalanan jarak jauh pun dapat menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. (*)











