CIPUTATTIMUR,BANTENEKSPRES.CO.ID – Bencana jebolnya bendungan di kawasan Situ Gintung yang terjadi pada Jumat 27 Maret 2009 lalu sampai menelan 100 orang korban jiwa. Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah azan subuh berkumandang dan menimbulkan korban jiwa yang diperkirakan mencapai sekitar 100 orang.
Menurut keterangan Dedi selaku warga sekitar, jebolnya bendungan ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut tanpa henti mulai dari Kamis malam selama kurang lebih dua hari satu malam. Intensitas hujan yang tinggi hingga menyebabkan tanah di sekitar tanggul terkikis secara perlahan hingga akhirnya tak mampu menahan tekanan air yang ada di danau.
Awalnya, air hanya merembes sedikit dari tanggul. Namun, dikarenakan tanah terus terkikis oleh derasnya aliran air dan curah hujan yang tidak berhenti, tanggul akhirnya jebol. Air dari danau pun meluap deras ke permukiman warga di sekitarnya hingga menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa.
“Air mulai rembes sedikit, lama-lama tanahnya terkikis. Karena hujan dari pagi sampai subuh besoknya tidak berhenti dan deras terus, akhirnya tanggul jebol. Air di danau sampai habis, tinggal lumpur saja,” ujar Dedi, warga setempat yang akrab disapa Idung saat diwawancarai oleh bantenekspres.co.id pada Senin 9 Maret 2026.
Pasca peristiwa tersebut, perbaikan dan penguatan tanggul bendungan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang. Bagian tepi bendungan yang sebelumnya hanya berupa tanah kini diperkuat dengan urukan batu kali. Selain itu, lapisan terpal dipasang sebagai alas pelindung dan diperkuat dengan paku bumi.
Penguatan juga dilakukan pada tiang-tiang penyangga tanggul dan pintu bendungan. Setiap tiang kini dilengkapi enam paku bumi untuk meningkatkan kekuatan struktur dan menahan tekanan air dari danau.
“Dulu itu ini di pinggir bendungan hanya tanah saja, tetapi setelah kejadian itu langsung di renovasi termasuk dikasih baru kali di sisi bendungannya,” ucap Dedi.
Peristiwa jebolnya bendungan Situ Gintung menjadi salah satu bencana besar yang membekas di ingatan masyarakat setempat. Tragedi tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan warga sekitar.
Dedi juga menceritakan, bahwa kondisi situ pada masa lalu sangat berbeda dibandingkan sekarang. Dahulu, air di Situ Gintung dikenal bersih dan sering dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga berenang.
“Dulu airnya bersih. Warga sering mandi, nyuci, bahkan berenang di situ. Sekarang mah sudah beda, kalau kena airnya malah bikin gatal,” tutupnya. (*)











