Tebing 10 Meter Longsor Susulan, Enam Rumah di Perumahan Bumi Agung Rajeg Terancam

Tebing 10 Meter Longsor Susulan, Enam Rumah di Perumahan Bumi Agung Rajeg Terancam
Tebing 10 meter di Perumahan Bumi Agung, Sukatani, Rajeg, Tangerang kembali longsor akibat hujan deras, semalam. Foto for bantenekspres.co.id

RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tangerang pada Sabtu malam menyebabkan longsor susulan di Perumahan Bumi Agung, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Rajeg, Minggu 8 Maret 2026.

Sebuah tebing setinggi sekitar 10 meter di kawasan tersebut longsor dan kini mengancam sedikitnya enam rumah warga di Blok C RT 05 RW 07.

Bacaan Lainnya

Peristiwa ini membuat warga setempat waswas, karena pergerakan tanah masih terjadi seiring tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tebing dilaporkan semakin kritis dan jaraknya kini sudah mendekati fondasi rumah warga yang berada di bawahnya.

Sedikitnya enam kepala keluarga (KK) berada di zona rawan longsor dan khawatir terjadi longsor susulan yang lebih besar.

Beberapa warga yang terdampak langsung di antaranya Anggia (Blok C2), Santi (Blok C3), Septia (Blok C4), Jaya (Blok C5), dan Ci (Blok C6).

“Saya kaget karena tebing di depan rumah longsor lagi setelah hujan deras semalam,” kata Anggia, salah satu warga terdampak.

Ancaman tidak hanya dirasakan warga yang berada di bawah tebing. Di bagian atas tebing, sebuah rumah milik almarhum Jamsuta, mantan Kepala Desa Sukatani di Kampung Senen RT 02 RW 07, juga berada dalam kondisi memprihatinkan.

Sebagian area teras samping rumah tersebut dilaporkan telah tergerus longsoran tanah. Jika tidak segera ditangani, bangunan permanen yang berada di atas tebing itu dikhawatirkan bisa roboh dan menimpa rumah-rumah warga di bawahnya.

Warga Perumahan Bumi Agung dan Kampung Senen berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang maupun pihak pengembang segera turun tangan melakukan penanganan.

Mereka mendesak pembangunan dinding penahan tanah (turap) permanen untuk mencegah longsor semakin meluas.

“Kami butuh turap yang kuat dan permanen. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa atau bangunan roboh baru ditangani,” ujar salah satu warga.(*)

Pos terkait