Kendala Lahan dan Pengurus, Pengurangan Sampah di Pamulang Barat Belum Maksimal

Warga melakukan penimbangan sampah di salah satu bank sampah yang ada di Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang. Dok. Kelurahan Pamulang Barat For Bantenekspres.co.id

PAMULANG,BANTENEKSPRES.CO.D – Upaya pengurangan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) dan bank sampah di Kelurahan Pamulang Barat masih menghadapi sejumlah kendala.

Persoalan utama meliputi keterbatasan lahan, minimnya sumber daya pengelola, hingga tantangan sosial dari masyarakat.
Kelurahan Pamulang Barat yang berada di Kecamatan Pamulang memiliki 25 RW dan 122 RT. Namun, hingga saat ini TPS 3R baru tersedia di empat titik, yakni RW 5, 12, 20, dan 21.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, jumlah bank sampah tercatat sebanyak 26 unit. Meski demikian, keberadaannya belum tersebar di seluruh RW karena masih ada wilayah yang belum memiliki bank sampah.

Lurah Pamulang Barat Mulyadi mengatakan, secara konsep TPS 3R dan bank sampah mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, implementasinya belum sepenuhnya optimal.

“Target pengurangan sampah itu sekitar 30 persen. Tapi praktiknya belum semua sanggup. Kalau bisa 50 persen itu sudah bagus,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Selasa, 24 Februari 2026.

Mulyadi menambahlan, dalam operasionalnya,l sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dipilah untuk dijual kembali, sedangkan residunya dibuang ke TPA. Kendala utama pengembangan TPS 3R adalah ketersediaan lahan. Idealnya, TPS 3R membutuhkan lahan minimal sekitar 400 meter persegi.

“TPS 3R itu ada potensi bau karena sampah dari rumah tangga dikumpulkan dulu sebelum dipilah. Jadi warga kadang keberatan,” tambahnya.

Selain luas lahan, faktor lingkungan dan penerimaan masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri, terutama di kawasan padat penduduk. Meski wilayahnya tergolong luas, hampir seluruh lahan telah dimanfaatkan sehingga sulit mencari lokasi baru.
“Warga itu jangankan dekat dengan TPS, mobil sampah lewat saja kadang sudah protes,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan lain yang sempat terjadi adalah keterlambatan pengangkutan residu sampah dari TPS 3R ke TPA. Akibatnya, sampah sempat menumpuk dan memicu keluhan warga karena bau tidak sedap.

“Kasihan pengelola TPS 3R. Sampah sempat menumpuk karena belum diangkut, warga komplain soal bau dan lainnya,” tuturnya.

Namun kini kondisi tersebut mulai membaik karena pengangkutan sudah lebih rutin. “Alhamdulillah sekarang sudah jarang ada penumpukan sampah,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Pamulang Barat, Eniyar mengatakan, kendala utama pengembangan bank sampah adalah keterbatasan pengurus.

“Kendalanya di pengurus. Harus ada warga yang mau mengurus, memilah, mencatat, menimbang. Biasanya ibu-ibu yang aktif, tapi tidak semua wilayah ada yang bersedia,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan bank sampah sangat bergantung pada partisipasi warga. Tanpa pengurus yang aktif, program sulit berjalan meski secara administrasi tingkat RT siap membentuknya.

Meski demikian, bank sampah dinilai cukup membantu perekonomian warga. Dalam satu bank sampah, perputaran uang bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp4 juta per bulan. Sementara secara individu, pendapatan dari hasil menabung sampah berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan, tergantung konsistensi dan volume setoran.

“Kalau rajin, lumayan. Bisa sampai Rp100 ribu hingga Rp300 ribu,” tambahnya.

Ia menambahkan, jumlah bank sampah yang aktif saat ini telah bertambah dari sebelumnya 24 unit menjadi 26 unit.
“Kita tetap sosialisasi terus bagi RT/RW yang belum punya bank sampah. Mungkin habis Lebaran kita tingkatkan lagi,” katanya.

Secara wilayah, Pamulang Barat kini menjadi kelurahan terluas sekaligus terpadat di Kecamatan Pamulang. Luas wilayahnya mencapai lebih dari 421 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 54 ribu jiwa. “Dulu wilayah lain yang terluas dan terpadat, sekarang Pamulang,” tutupnya. (*)

Reporter: Tri Budi

Pos terkait