Banten Darurat Masalah Lingkungan?

Ilustrasi Peta Banten. Sumber foto: Istimewa 

BANTENEKSPRES.CO.ID – Kami mencoba merangkum berita yang sudah terbit sebelumnya yang sempat menjadi perhatian publik di Banten. Dalam rentang waktu berbeda, tiga peristiwa mencuat ke permukaan yakni kematian massal ikan di Sungai Cisadane, relokasi warga akibat paparan radioaktif Cesium-137 di kawasan industri Cikande, serta kemunculan asap berwarna oranye dari fasilitas industri kimia di Cilegon. Ketiganya berdiri sebagai kasus berbeda, namun sama-sama menyangkut keselamatan lingkungan dan warga.

Ikan Mati Massal di Sungai Cisadane

Bacaan Lainnya

Awal Februari 2026, warga di bantaran Sungai Cisadane dikejutkan oleh pemandangan tak biasa. Ikan-ikan mengambang dalam kondisi mati. Sebagian lainnya tampak lemas sebelum akhirnya tak bergerak. Laporan warga itu diterima Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, yang kemudian menurunkan tim ke lokasi.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Tangerang, Hendro Pratama Syahputra, mengatakan pihaknya bergerak setelah mendapat laporan masyarakat.

“Sesuai arahan pak wali kota dan pak kadis, kami merespons laporan masyarakat mengenai adanya indikasi pencemaran yang mengalir dari wilayah Tangsel,” ujar Hendro seperti dikutip Banten Ekspres, 10 Februari 2026.

DLH bersama aparat kepolisian mengambil sampel air dan ikan untuk diuji di laboratorium. Uji tersebut, menurut Hendro, termasuk untuk mengetahui kemungkinan adanya kandungan pestisida atau zat kimia lain yang masuk ke aliran sungai. Dugaan itu muncul karena sebelumnya terjadi peristiwa kebakaran gudang bahan kimia di wilayah hulu.

Hasil pengecekan awal menunjukkan sejumlah parameter fisika dan kimia air masih dalam batas normal. Namun, kekeruhan dan kadar oksigen di beberapa titik menunjukkan kondisi yang tidak biasa. DLH mengimbau warga untuk sementara waktu tidak mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane hingga hasil uji laboratorium keluar.

“Kami khawatir ada dampak kesehatan,” kata Hendro.

 

Sungai Cisadane selama ini menjadi salah satu sumber air baku dan aktivitas ekonomi warga. Kematian ikan massal itu memicu kekhawatiran, terutama bagi warga yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan sungai. Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan kualitas air sambil menunggu hasil analisis laboratorium.

Relokasi Warga Terdampak Radioaktif di Cikande

Beberapa bulan sebelumnya, Kabupaten Serang menghadapi persoalan berbeda. Paparan radioaktif Cesium-137 ditemukan di kawasan industri Cikande. Pemerintah daerah memutuskan merelokasi warga yang tinggal di zona terdampak untuk mendukung proses dekontaminasi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana, memastikan kebutuhan warga selama relokasi akan ditanggung pemerintah.

“Kami jamin seluruh kebutuhannya, bahkan uang Rp5 juta per kepala keluarga diberikan agar mereka bisa tinggal dengan nyaman dan tenang,” ujar Zaldi seperti dikutip Banten Ekspres, 22 Oktober 2025.

Sekitar 30 kepala keluarga atau lebih dari 100 jiwa direlokasi secara bertahap. Pemerintah menyediakan hunian sementara lengkap dengan kasur, alat masak, sembako, pakaian, hingga seragam sekolah anak-anak. Warga juga diimbau tidak membawa barang dari rumah yang diduga terpapar untuk mencegah meluasnya kontaminasi.

Zaldi menegaskan langkah relokasi dilakukan demi keselamatan warga sekaligus mempercepat proses pembersihan area. Aparat dan tim teknis dari lembaga terkait melakukan pengukuran radiasi serta dekontaminasi sesuai prosedur keselamatan.

Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko turut menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak. Ia menyebut bantuan tersebut sebagai bentuk dukungan agar warga tetap merasa aman selama proses penanganan berlangsung. Pemerintah daerah menyatakan akan terus memantau kondisi warga hingga situasi dinyatakan sepenuhnya aman.

 

Asap Oranye dari Kawasan Industri Cilegon

Di waktu berbeda, warga Cilegon dikejutkan oleh kemunculan asap berwarna oranye dari salah satu fasilitas industri kimia. Rekaman kejadian itu beredar luas di media sosial dan memicu pertanyaan publik mengenai penyebab serta dampaknya.

 

Sejumlah warga melaporkan mencium bau menyengat dan merasakan pusing setelah melihat kepulan asap tersebut. Pemerintah kota bersama dinas lingkungan hidup setempat segera melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan tidak terjadi kebocoran bahan berbahaya.

 

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa warna asap merupakan bagian dari proses teknis internal. Meski demikian, otoritas tetap melakukan pemantauan kualitas udara dan meminta laporan detail terkait kejadian tersebut.

 

Dinas kesehatan setempat juga memantau kondisi warga yang mengeluhkan gangguan ringan. Pemerintah memastikan situasi terkendali setelah dilakukan pengecekan dan tidak ditemukan indikasi dampak kesehatan serius dalam skala luas.

 

Peristiwa di Cilegon itu kembali mengingatkan publik pada kedekatan antara kawasan industri dan permukiman warga. Pemerintah daerah menyatakan akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas industri guna mencegah kejadian serupa terulang.

 

Reporter: Najib

Pos terkait