CIPUTAT, BANTENEKSPRES.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mulai melakukan berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berpotensi lebih panjang dan berdampak pada kekeringan di sejumlah wilayah.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel Essa Nugraha mengatakan, potensi kemarau tahun ini perlu diwaspadai karena diprediksi memiliki dampak cukup besar, termasuk risiko kekeringan dan kebakaran yang kerap terjadi setiap tahun.
Menurutnya, wilayah yang selama ini paling sering terdampak kekeringan berada di Kecamatan Setu, Serpong, dan Serpong Utara. Karena itu, BPBD telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan, terutama penyediaan dan distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak.
“Kalau terjadi kekeringan, kebutuhan utama masyarakat adalah air bersih. Karena itu kami sudah menyiapkan skema distribusi air bekerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Selasa, 2 Juni 206.
Dalam penanganan kekeringan, BPBD Kota Tangsel akan menggandeng sejumlah penyedia sumber air bersih, seperti perusahaan air minum, pengelola kawasan perumahan, hingga perusahaan swasta yang selama ini turut membantu saat terjadi bencana kekeringan.
Selain distribusi air bersih, BPBD juga memiliki alat penyulingan air yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi darurat. “Peralatan ini telah diuji dan dinyatakan layak digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat,” tambahnya.
Berdasarkan informasi dari BMKG, Kota Tangsel saat ini mulai memasuki musim kemarau. Meski demikian, Tangsel termasuk salah satu wilayah terakhir di Provinsi Banten yang mengalami peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
“Secara umum Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Untuk wilayah Tangerang Selatan memang termasuk yang terakhir memasuki musim kemarau di Banten,” jelasnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, salah satunya dengan menampung air hujan selama masa transisi musim yang masih memungkinkan terjadinya hujan.
“Kami berharap masyarakat memanfaatkan sisa hujan yang masih turun untuk menampung air. Cadangan air tersebut bisa digunakan ketika musim kemarau berlangsung,” tuturnya.
Selain ancaman kekeringan, BPBD juga mewaspadai potensi meningkatnya kejadian kebakaran selama musim kemarau. Masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam penggunaan api serta segera melaporkan kejadian darurat melalui layanan 112 agar dapat ditangani dengan cepat.
“Jika mulai mengalami kesulitan air bersih atau terjadi kondisi darurat lainnya, masyarakat bisa segera melapor melalui layanan 112 sehingga petugas dapat segera memberikan bantuan,” tutupnya. (*)
Reporter : Tri Budi










