PAGEDANGAN,BANTENEKSPRES.CO.ID – SMPN 3 Pagedangan terus menunjukkan komitmennya dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada seluruh warga sekolah. Salah satu upaya nyata tersebut diwujudkan melalui kampanye konservasi energi yang digagas dan dilaksanakan oleh kader Adiwiyata sekolah.
Kegiatan ini menyasar seluruh siswa dengan tujuan membangun kesadaran sejak dini akan pentingnya penghematan energi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kampanye tersebut, kader Adiwiyata aktif mengajak siswa untuk bijak menggunakan sumber daya alam, khususnya air dan energi listrik. Para siswa diimbau untuk selalu mematikan kran air setelah digunakan, tidak membiarkan air mengalir sia-sia, serta memanfaatkan cahaya matahari sebagai penerangan alami di ruang kelas pada siang hari.
Selain itu, siswa juga diingatkan untuk mematikan lampu, kipas angin, dan peralatan elektronik lainnya ketika tidak digunakan.
Kepala SMPN 3 Pagedangan, Ita Ratna Jelita, mengatakan kampanye konservasi energi merupakan bagian dari pendidikan karakter yang sejalan dengan program Adiwiyata. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan peduli lingkungan pada diri siswa.
“Kami ingin menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti menghemat air dan listrik. Jika kebiasaan ini tertanam sejak di sekolah, kami yakin akan terbawa hingga ke lingkungan rumah dan masyarakat,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Sabtu 24 Januari 2026.
Ia menambahkan, keterlibatan kader Adiwiyata dalam kampanye tersebut menjadi nilai tambah karena siswa dapat saling belajar dari sesama teman dan membentuk pembiasaan positif.
“Kader Adiwiyata kami dorong menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan langsung dan mengajak teman-temannya untuk bersama-sama peduli terhadap konservasi energi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ita menuturkan bahwa pemanfaatan energi matahari juga menjadi salah satu fokus edukasi kepada siswa. Dengan membuka jendela dan tirai kelas, kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung dengan nyaman tanpa harus selalu mengandalkan lampu di siang hari.
“Selain menghemat listrik, hal ini juga menciptakan suasana kelas yang lebih sehat dan nyaman. Sinar matahari pagi sangat baik dan memiliki banyak manfaat. Karena itu, siswa selalu kami minta membuka tirai jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam kelas,” paparnya.
Menurut Ita, kampanye konservasi energi ini tidak bersifat seremonial, melainkan dilakukan secara berkelanjutan. Para guru juga turut berperan aktif dalam mengawasi dan mengingatkan siswa agar kebiasaan hemat energi dapat diterapkan secara konsisten.
“Kami berharap seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan, memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga lingkungan sekolah. Kampanye ini disambut positif oleh para siswa karena mereka kini lebih memahami pentingnya menghemat energi dan mulai membiasakan diri mematikan lampu serta alat elektronik setelah digunakan,” tutupnya. (*)











