CIBADAK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, membuat ratusan hektar lahan pesawahan di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten terendam.
Informasi yang dihimpun, dari 164 hektar lahan padi yang terendam banjir, sekitar 50 hektar lahan padi dinyatakan puso alias gagal panen. Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi petani dan perlu perhatian serius dari pemerintah.
Irwan Riyadi, Kepala Bidang Binus dan Perlintan Dinas Pertanian Kabupaten Lebak membenarkan lahna padi di beberapa desa di Kecamatan Cibadak terendam banjir.
Menurut dia, data yang masuk ada sekitar 164 hektar pesawahan padi terendam, diantaranya di Desa Cisangu, Cimenteng Jaya, Panancangan, dan Bojongcae. Untuk Desa Cisangu menjadi wilayah terdampak terluas, dengan 101 hektar sawah terdampak.
“Sebagian genangan sudah surut, namun sekitar 50 hektar mengalami kerusakan parah sehingga gagal panen,” kata Irwan Riyadi, kepada wartawan di Rangkasbitung, Rabu 7 Januari 2026.
Sebagai tindak lanjut, kata Irwan, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk pengajuan bantuan benih padi pengganti, bagi lahan yang dinyatakan puso.
Pihaknya juga mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) melalui PT Jasindo untuk memperoleh kompensasi jika terjadi gagal panen. Kata Irwan, banjir tidak hanya dipicu hujan ekstrem, tetapi juga bisa karena saluran drainase tersumbat dan pendangkalan sungai. Ia mengimbau petani aktif melaporkan kondisi di lapangan agar penanganan bisa lebih cepat.
“Dengan sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah, dampak bencana pertanian dapat ditekan dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga,” papar Irwan.
Ujang Komarudin, warga Desa Cisangu yang lahannya terdampak mengatakan, sawahnya yang terdampak seluas 10 petak dari 20 petak miliknya. 10 petak yang sebulan lagi panen rusak total dan dipastikan gagal panen.
“Kalau sudah kerendam itu jadi bubur lagi, jadi tanah lagi. Yang sudah tumbuh batangnya masih utuh, tapi buahnya tidak menghasilkan kembang belalang dan putih-putih,” tuturnya.
Ujang mengaku, Biaya produksi yang hilang diperkirakan mencapai Rp20 juta. Banjir ini juga merendam di area lahan milik 30 petani di wilayah yang sama.
“Kami berharap, pemerintah dapat membantu dalam hal bibit dan pupuk, guna menanam kembali jika sudah kembali normal,” ungkapnya.
Doli, Kepala Desa Cisangu menambahkan, banjir berulang kali disebabkan aliran buangan dari beberapa desa sekitar, termasuk wilayah Warunggunung.
“Banjir ini sebenarnya sudah terjadi berulang kali. Aliran buangan dari beberapa desa ikut mengalir ke wilayah kami karena posisinya berada di sisi desa,” jelas Doli.
Doli menekankan, normalisasi kali menjadi langkah paling penting dan mendesak untuk mengatasi banjir berulang.
“Solusinya sederhana, yakni normalisasi kali. Kami berharap pihak terkait segera menindaklanjuti karena ini akan cukup efektif mengurangi dampak banjir,” ucapnya.(*)











