CARENANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Jembatan berstruktur kayu di Kampung Kidongdong Pasir, Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, menjadi akses bagi karyawan pergi dan pulang bekerja.
Namun, jembatan ini banyak dikeluhkan warga sekitar, lantaran kondisinya sangat memprihatinkan dan rawan roboh jika terus menerus dibiarkan tidak ada perbaikan.
Warga meminta, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten untuk segera membangun jembatan baru, jangan hanya diperbaiki.
Pantauan di lokasi, jembatan ini hanya muat dilalui satu mobil dan terbuat dari kayu serta satu besi sebagai penyangganya, di bawahnya ada Sungai Cisadane.
Terlihat sangat memprihatinkan, dan sewaktu-waktu bisa saja roboh apabila tidak ada perbaikan atau pembangunan jembatan baru.
Apalagi jika sudah turun hujan, jembatan ini akan sangat licin untuk dilalui, warga yang melintasinya tentu harus fokus, karena kalau salah sedikit saja bisa terjatuh akibat kayu yang menjadi licin usai diguyur hujan.
Terpantau juga, banyak sekali kendaraan mobil dan motor yang melintas, karena aksesnya bisa memangkas jarak tempuh.
Herman, selaku warga sekitar jembatan kayu ini, mengatakan, jembatan berstruktur kayu ini merupakan jalan penghubung antar wilayah dan selalu ramai dilalui, khususnya bagi karyawan yang hendak berangkat kerja ke wilayah Tangerang karena bisa memangkas waktu tempuh perjalanan.
Jembatan kayu ini ramai dilalui ketika pagi dan sore hari hingga malam haripun banyak dilalui pengendara baik motor maupun mobil, bahkan sampai menimbulkan kemacetan karena harus bergantian dengan mobil yang melintas.
“Banyak dilalui warga yang melintas, khususnya karyawan biasanya pagi ketika berangkat dan sore ketika pulang, kadang juga macet panjang karena mobil juga ikut melintas, jembatan hanya muat satu mobil. Kalau tidak dibangun, khawatir akan rubuh (roboh),” katanya saat ditemui wartawan di dekat lokasi jembatan kayu, Rabu 19 November 2025.
Menurut Herman, jembatan kayu ini sudah ada sejak 1980-an yang waktu itu dibangun hasil dari swadaya masyarakat, karena menjadi akses penting yang dapat memangkas jarak tempuh.
Sempat pernah terjadi kerusakan pada bagian tengah jembatan, namun warga sekitar langsung berbondong-bondong melakukan perbaikan dengan kayu lagi.
“Sudah lama sekali jembatan kayu ini ada, kalau tidak salah sekitar 1980-an dibangun hasil dari swadaya masyarakat sekitar, waktu itu pak lurah yang memerintahkan. Murni hasil swadaya dari masyarakat, tidak ada campur tangan uang dari pemerintah,” ujarnya.
Dikatakan Herman, jembatan kayu ini merupakan jalan penghubung antar daerah bisa menuju ke Kabupaten Tangerang, namun kondisinya sangat memprihatinkan dan bisa saja sewaktu-waktu rubuh.
Ia berharap, pemerintah setempat baik Pemkab Serang maupun Pemprov Banten, memperhatikan kondisi jembatan ini. Ia berharap jembatan itu bisa dibangun baru.
“Saya tidak tahu jembatan ini menjadi kewenangan pemerintah kabupaten atau provinsi, namun yang pasti kami berharap dibangun jembatan baru yang lebih kokoh dan bisa dilalui dua mobil agar tidak macet. Panjang jembatannya sekitar 20 meter, kalau tidak segera ditangani khawatir rubuh dan ada korban,” ucapnya. (*)











