CIPOCOK JAYA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang merilis data terbaru penerima manfaat Program Makanan Bergizi (MBG). Hingga Kamis 25 September 2025, tercatat sebanyak 41.866 balita dan 4.685 ibu hamil di Kota Serang telah masuk dalam cakupan program tersebut.
Kepala Dinkes Kota Serang, Ahmad Hasanuddin, menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh langsung dari Puskesmas di seluruh wilayah Kota Serang dan sudah dihimpun secara resmi pada hari yang sama. “Ini data paling baru, karena langsung masuk dari Puskesmas dan kami rekap hari ini,” ujarnya.
Sebaran penerima manfaat cukup merata di enam kecamatan, meski ada beberapa wilayah dengan jumlah terbanyak. Kecamatan Taktakan tercatat sebagai yang paling tinggi, dengan lebih dari 6.600 penerima manfaat, terdiri dari sekitar 5.400 balita dan 1.200 ibu hamil. Sementara di Kecamatan Walantaka terdapat lebih dari 9.200 penerima, mayoritas berasal dari Kelurahan Walantaka dan Kelodran. Adapun Kecamatan Cipocok Jaya mencatat sekitar 6.600 penerima, dengan angka terbesar di Banten Girang dan Banjar Agung.
Untuk Kecamatan Kasemen, jumlah penerima mencapai lebih dari 6.800 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di Kelurahan Kilasah yang mencatat lebih dari 3.500 balita dan 400 ibu hamil. Di Kecamatan Serang sendiri, jumlah penerima tersebar di lima kelurahan dengan total lebih dari 11 ribu penerima. Sedangkan di Kecamatan Curug, jumlah penerima mencapai hampir 3.200 orang, terdiri dari balita dan ibu hamil.
Hasanuddin menegaskan bahwa pendataan penerima manfaat MBG bersifat dinamis. Setiap ibu hamil baru otomatis akan masuk ke sistem penerima ketika melakukan pemeriksaan di Puskesmas. “Begitu ibu hamil datang, langsung tercatat dan otomatis masuk program MBG,” jelasnya.
Terkait distribusi, Dinkes memastikan penyaluran program tetap mengacu pada mekanisme yang ditetapkan pemerintah pusat. Dengan data yang sudah terverifikasi, intervensi bisa lebih tepat sasaran.
Untuk menjamin kualitas, setiap dapur Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) melibatkan tenaga ahli gizi yang merancang menu harian berdasarkan pola “10 + 1 menu” dengan variasi berbeda setiap hari. Menu kering juga disiapkan sebagai alternatif pada situasi tertentu seperti saat bulan puasa atau ketika siswa sedang ujian.
Selain itu, Pemkot Serang juga membentuk Satgas MBG yang berfungsi mengawasi kualitas gizi sekaligus keamanan pangan agar makanan yang disalurkan aman dikonsumsi. “Satgas ini tidak hanya mengurusi menu, tapi juga menjamin keamanan pangan agar tidak ada kasus keracunan,” tegas Hasan. (*)
Reporter: Aldi Alpian Indra










