Hujan Mulai Turun, BBMKG Tegaskan Banten Masih Puncak Kemarau

Hujan Mulai Turun, BBMKG Tegaskan Banten Masih Puncak Kemarau
Cuaca mendung menyelimuti kawasan Ciputat pada Sabtu, 19 September 2026 sore. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

CIPUTAT, BANTENEKSPRES.CO.ID – Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Banten. Namun, masyarakat diminta tidak menganggap musim hujan telah dimulai. Hingga Dasarian I September 2026, seluruh wilayah Banten masih berada dalam periode musim kemarau.

Plt. Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan, puncak musim kemarau 2026 di Banten secara umum diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September.

Bacaan Lainnya

Bahkan, sejumlah wilayah masih berada pada periode puncak kemarau pada September, termasuk wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

“Pada September 2026, sejumlah wilayah masih berada pada periode puncak musim kemarau, meliputi ZOM 159 Kabupaten Lebak bagian selatan, ZOM 160 Kabupaten Lebak bagian tengah, ZOM 167 Kabupaten Serang bagian tenggara, Kabupaten Tangerang bagian selatan dan Kabupaten Lebak bagian timur laut,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Jumat 18 September 2026.

Ana menambahkan, ZOM 168 yang meliputi Kota Tangerang bagian selatan, Kota Tangsel dan Kabupaten Tangerang bagian tenggara juga masih berada dalam periode tersebut.

Menurutnya, hujan ringan atau gerimis yang terjadi sesekali belum menjadi tanda musim hujan telah dimulai. Hujan tersebut dapat dipicu faktor cuaca lokal di tengah periode kemarau.

“Terjadinya gerimis atau hujan ringan juga bersifat lokal atau tidak merata. Dengan demikian, hujan lokal di tengah kondisi puncak musim kemarau bukan berarti musim hujan telah dimulai,” katanya.

Pertumbuhan awan dapat terjadi akibat pemanasan permukaan pada siang hari ketika atmosfer masih relatif lembap. Kondisi topografi, perlambatan atau pertemuan angin, serta pasokan uap air dari perairan sekitar Banten juga dapat memicu hujan lokal.

Berdasarkan prediksi curah hujan bulanan, kondisi yang lebih basah diperkirakan mulai terlihat pada November 2026. Curah hujan diprediksi berada pada kategori menengah, sekitar 150 hingga 300 milimeter per bulan.

Karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah masih diminta mengantisipasi keterbatasan air hingga memasuki masa transisi menuju musim hujan.

Kondisi kemarau tahun ini juga dipengaruhi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. Fenomena tersebut berpotensi memperbesar penurunan curah hujan dan memperpanjang durasi musim kemarau.

“Berdasarkan Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Provinsi Banten periode Dasarian II September 2026, terdapat enam kabupaten/kota yang masuk dalam status kekeringan meteorologis Level Awas, yaitu Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak,” ungkapnya.

Kombinasi puncak kemarau dan pengaruh El Niño berpotensi meningkatkan defisit curah hujan serta risiko kekeringan meteorologis.

Dampaknya antara lain berkurangnya ketersediaan air, penurunan debit sungai hingga gangguan terhadap sektor pertanian. Lahan yang bergantung pada curah hujan juga berisiko mengalami gagal panen.

“Kami mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air bersih yang tersedia. Penggunaan dan distribusi air untuk kebutuhan pertanian juga perlu dioptimalkan dengan meningkatkan efisiensi sistem irigasi,” tuturnya.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya di wilayah dengan kondisi lahan kering. (*)

Pos terkait