TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kondisi Pasar Gudang Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung.
Sepinya pengunjung dinilai akibat banyaknya pasar tumpah di sejumlah kecamatan di Kabupaten Tangerang. Kondisi itu, dikhawatirkan semakin membuat masyarakat enggan berbelanja di dalam pasar.
Direktur Utama Perumda Pasar Niaga Kerta Raharja (NKR), Finny Widiyanti, mengatakan pihaknya akan melaporkan kondisi tersebut sekaligus meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang melakukan penertiban terhadap keberadaan pasar-pasar liar.
“Baik, kita akan laporkan dan minta penertiban ke Pemkab,” ujar Finny saat dihubungi Banten Ekspres, Rabu 2 September 2026.
Menurutnya, keberadaan pasar liar memang menjadi salah satu kendala yang kerap dihadapi pasar-pasar di Kabupaten Tangerang. Persoalan serupa, kata dia, juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
“Memang salah satu kendala dari seluruh pasar yang ada di Kabupaten Tangerang selalu berurusan dengan pasar liar. Ini juga terjadi di seluruh Indonesia,” katanya.
Finny menegaskan, berbagai upaya akan terus dilakukan agar aktivitas perdagangan di pasar dapat kembali bergairah dan pedagang memperoleh kepastian dalam menjalankan usahanya.
“Jangan putus asa, kita coba terus ikhtiar,” tuturnya.
Sebelumnya, sejumlah pedagang di Pasar Gudang Tigaraksa mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi.
“Iya, tiap hari kayak gini. Sepi, jarang pengunjung,” ujar Udin saat diwawancarai Banten Ekspres, Selasa 1 September 2026.
Udin menilai salah satu penyebabnya adalah pola belanja masyarakat yang berubah. Pengunjung yang datang ke pasar cenderung hanya berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti sayuran, ikan, dan sembako yang berada di bagian bawah pasar.
Sementara lapak pedagang pakaian dan sandal yang berada di lantai atas lebih banyak didatangi jika masyarakat memang memiliki kebutuhan khusus.
“Kalau bukan keperluan mau beli pakaian atau sandal, enggak ada yang naik. Jadi sepi. Jangankan yang belanja, yang lewat juga kayak gini,” katanya. (*)











