Pelatihan Pencegahan Kebakaran Diharapkan Mampu Tekan Risiko Musibah di Lingkungan Warga

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel Ahmad Dohiri (tuga kiri) menyerahkan APAR kepada perwakilan warga Kelurahan Parigi, Kecamatan Pondok Aren. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

PONDOKAREN, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel menggelar sosialisasi edukasi pencegahan kebakaran bagi anggota Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) dan masyarakat di Kelurahan Parigi.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel Ahmad Dohiri mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembentukan dan pembinaan Redkar yang diikuti pengurus RT, RW, anggota Redkar, serta perwakilan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Ini merupakan hasil usulan Musrenbang tahun 2025. Alhamdulillah direspons oleh Pak Wali Kota dan DPRD sehingga tahun ini bisa dilaksanakan,” ujarnya, Selasa, 14 Juli 2026.

Dohiri menambahkan, pada tahun ini terdapat sembilan kelurahan yang memperoleh alokasi anggaran untuk kegiatan pembinaan, pencegahan, dan penanggulangan kebakaran yang seluruhnya berasal dari usulan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut pihaknya juga menggandeng PT PLN (Persero) untuk memberikan edukasi mengenai keamanan instalasi listrik di rumah. “Kami sengaja melibatkan PLN karena berdasarkan evaluasi, sekitar 75 persen kasus kebakaran di Tangsel disebabkan korsleting listrik. Masyarakat perlu memahami bagaimana merawat instalasi listrik agar tetap aman,” tambahya.

Data Dinas Pemadam Kebakaran mencatat, pada 2024 terjadi sekitar 100 kasus kebakaran. Angka itu menurun menjadi 69 kejadian pada 2025. Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kejadian telah mencapai sekitar 60 kasus dan diperkirakan masih berpotensi meningkat memasuki musim kemarau.

“Prinsip kami sederhana, kalau rumah masing-masing aman, maka potensi kebakaran juga bisa ditekan. Karena itu masyarakat harus mampu menjaga instalasi listrik di rumahnya,” jelasnya.

Selain sosialisasi, Dinas Pemadam Kebakaran juga menyerahkan bantuan berupa 10 unit alat pemadam api ringan (APAR), pompa pemadam, dan perlengkapan pendukung lainnya sesuai kebutuhan yang diajukan masyarakat melalui Musrenbang.

Bantuan tersebut nantinya ditempatkan di masing-masing wilayah RW sesuai lokasi yang telah diusulkan agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana penanganan awal apabila terjadi kebakaran.

“Redkar menjadi ujung tombak pencegahan kebakaran di wilayahnya masing-masing. Mereka yang nantinya akan terus mengedukasi masyarakat sekaligus membantu penanganan awal ketika terjadi kebakaran,” terangnya.

Selain mendapatkan materi teori, peserta juga akan menerima pelatihan praktik mengenai langkah-langkah pencegahan kebakaran, termasuk cara menggunakan peralatan pemadam api ringan (APAR) serta penanganan awal ketika terjadi kebakaran.

Menurutnya, kebakaran menjadi salah satu bencana yang dapat menimbulkan kerugian besar karena mampu menghanguskan seluruh harta benda dalam waktu singkat. “Kalau kebakaran sudah terjadi, dampaknya bisa sangat besar. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana mencegahnya sebelum terjadi,” ungkapnya.

Dalam pelatihan tersebut, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai penyebab kebakaran yang sering terjadi di lingkungan rumah tangga, salah satunya akibat korsleting listrik. Warga diimbau untuk rutin memeriksa instalasi listrik, menghindari penggunaan colokan listrik bertumpuk, serta menggunakan peralatan listrik sesuai standar keamanan.

Ia menegaskan, upaya pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing. Apabila setiap keluarga mampu menjaga rumahnya dari potensi kebakaran, maka risiko terjadinya kebakaran di lingkungan akan semakin kecil.
“Minimal masyarakat bisa menjaga rumahnya sendiri dari bahaya kebakaran. Kalau setiap rumah aman, tentu lingkungan juga akan lebih aman,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengapresiasi kinerja Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Kota Tangsel yang dinilai aktif membantu pemerintah dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran di masyarakat.

Pembinaan terhadap Redkar dilakukan secara rutin setiap tahun oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel agar para relawan memiliki kemampuan dasar dalam mengedukasi masyarakat sekaligus melakukan penanganan awal saat terjadi kebakaran.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Dinas Pemadam Kebakaran yang setiap tahun rutin melaksanakan program ini. Redkar Tangsel saya nilai cukup aktif dan pembinaannya juga berjalan secara rutin,” ujarnya.

Pilat menambahkan, peran Redkar tidak hanya membantu proses pemadaman api, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran dan langkah-langkah pencegahannya.

“Relawan harus mampu mengkampanyekan kepada masyarakat mengenai titik-titik rawan penyebab kebakaran, sekaligus memberikan pemahaman bagaimana cara menghadapi kebakaran dengan benar, tidak panik, tetapi tetap mengutamakan keselamatan,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah kelompok Redkar juga menerima bantuan alat pemadam api ringan (APAR) sesuai usulan yang diajukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun sebelumnya.

Pemberian APAR dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing kelompok relawan di berbagai kelurahan, sekaligus disertai pelatihan penggunaan alat agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Kami tidak hanya memberikan APAR, tetapi juga melatih cara penggunaannya. Jangan sampai alatnya ada, tetapi tidak tahu bagaimana mengoperasikannya,” jelasnya.

Menurutnya, mayoritas kasus kebakaran di Kota Tangsel masih disebabkan korsleting listrik. Karena itu, dalam pelatihan tersebut pemerintah juga melibatkan PLN untuk memberikan edukasi mengenai instalasi listrik yang aman.

“Banyak masyarakat yang masih menggunakan instalasi listrik tidak sesuai standar, bahkan ada yang mengambil sambungan langsung dari tiang listrik atau membiarkan kabel yang sudah rusak. Ini yang kami edukasikan bersama PLN,” ungkapnya.

Menurut Pilar, para peserta pelatihan diharapkan menjadi trainer di lingkungan masing-masing sehingga informasi mengenai pencegahan kebakaran dapat diteruskan kepada warga. (*)

Pos terkait