SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Provinsi Banten menggelar aksi demonstrasi di kawasan Lampu Merah Ciceri, Kota Serang, Sabtu 2 Mei 2026.
Aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini menjadi panggung kritik terhadap ketimpangan di sektor ketenagakerjaan dan pendidikan di Banten.
Sebagai salah satu wilayah industri terbesar di Indonesia, Banten dinilai belum sepenuhnya mampu menjamin kesejahteraan buruh. Masih banyak pekerja yang menghadapi ketidakpastian kerja, sistem kontrak berkepanjangan, hingga minimnya perlindungan sosial.
Koordinator aksi, Dedi Setiawan, menegaskan persoalan klasik buruh hingga kini belum terselesaikan.
“Upah layak, kepastian kerja, dan perlindungan buruh masih menjadi masalah utama. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya dalam orasi.
Tak hanya itu, PMII juga menyoroti ketimpangan di sektor pendidikan. Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan dinilai masih nyata, baik dari sisi fasilitas, kualitas tenaga pendidik, maupun akses melanjutkan pendidikan.
Biaya pendidikan yang tinggi turut menjadi sorotan, terutama bagi masyarakat dari kalangan buruh dan ekonomi menengah ke bawah.
“Pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan. Jika tidak berpihak pada rakyat kecil, justru memperlebar ketimpangan,” ujar Dedi.
Dalam tuntutannya, PMII Banten mendesak pemerintah menghapus praktik pungutan liar dalam rekrutmen tenaga kerja, menegakkan pembayaran upah sesuai UMK, serta menghapus sistem outsourcing yang dinilai merugikan buruh.
Di sektor pendidikan, mereka meminta pemerintah menekan angka putus sekolah, memastikan distribusi beasiswa tepat sasaran dan transparan, serta meningkatkan kesejahteraan guru honorer melalui pengangkatan menjadi ASN atau PPPK tanpa diskriminasi.
Selain isu ketenagakerjaan dan pendidikan, PMII juga menyoroti persoalan infrastruktur dan lingkungan di kawasan industri. Di antaranya penertiban truk over dimension over load (ODOL), percepatan perbaikan Jalan Lingkar Selatan (JLS), hingga penindakan terhadap tambang ilegal dan industri yang merusak lingkungan.
Isu kesehatan turut disorot, terutama meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akibat polusi industri. PMII mendesak perusahaan bertanggung jawab atas dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Ketua PKC PMII Banten, Winah Setiawati, menegaskan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan ketimpangan yang terjadi.
“Aksi ini adalah bentuk keberpihakan kami kepada rakyat. Kami akan terus mengawal kebijakan agar berpihak pada masyarakat,” tegasnya.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dan sempat menyebabkan arus lalu lintas di kawasan Ciceri melambat. Massa berharap pemerintah daerah segera merespons dan menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan.
PMII menegaskan, peringatan May Day dan Hardiknas harus menjadi momentum refleksi sekaligus dorongan perubahan menuju kondisi yang lebih adil dan merata di Provinsi Banten. (*)











