TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Wacana penerapan kebijakan Work From Home (WFH) yang merupakan kebijakan pemerintah pusat bagi sektor swasta mendapat respons dari Asosiasi Perusahaan Indonesia (Apindo) Kota Tangerang, yang mewadahi para pelaku usaha di daerahnya.
Ketua Apindo Kota Tangerang, Ismail menyatakan, kebijakan WFH bagi sektor usaha swasta sulit diimplementasikan secara menyeluruh, terutama pada sektor industri manufaktur.
Ismail mengatakan, hingga saat ini pihak pengusaha masih mengkaji mekanisme yang tepat, menyusul adanya surat edaran baru terkait WFH.
Ismail menegaskan, adanya perbedaan signifikan antara pekerjaan administratif dan operasional pabrik. “Kalau perkantoran masih kita pertimbangkan, kita belum ketemu metodenya. Tapi untuk industri, kemungkinan besar tidak bisa menerapkan WFH karena di Kota Tangerang masih membutuhkan tenaga manual. Kalau industri dipaksakan WFH, banyak perusahaan yang produksinya akan menurun,” tegas Ismail saat ditemui, Senin, 13 April 2026.
Ia menyampaikan, karakteristik dunia industri yang mengandalkan mesin membuat konsep bekerja dari rumah sulit direalisasikan. “Sistem kerja kita berbeda. Kita memegang mesin dan sebagainya, jadi belum ada konsep WFH yang pas untuk itu,” imbuhnya.
Selain isu WFH, Ismail juga menyoroti kondisi geopolitik global yang kian tidak menentu. Ketegangan di Timur Tengah dan konflik internasional diakui telah memicu kenaikan harga bahan baku serta biaya transportasi (logistik), baik untuk kebutuhan ekspor maupun impor.
Menghadapi hal tersebut, kata Ismail. Apindo mendorong perusahaan-perusahaan di Kota Tangerang untuk melakukan langkah efisiensi di semua lini agar tetap eksis.
“Strateginya adalah efisiensi di semua sektor. Contoh kecilnya, kita harus menekan angka waste atau scrap (limbah produksi) seminimal mungkin. Kita juga harus mencari alternatif bahan baku yang lebih terjangkau karena dampaknya sangat besar bagi industri nasional,” jelasnya.
Ia pun berharap, adanya dukungan penuh dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk menjaga kelangsungan operasional pabrik-pabrik yang sudah lama berkiprah di Kota Tangerang.
Adanya kabar beberapa perusahaan industri yang hengkang dari Kota Tangerang, Ismail menyebutkan, mereka telah melakukan konfirmasi lantaran tekanan biaya operasional dan persaingan global yang ketat juga berdampak pada keputusan strategis sejumlah perusahaan. Seperti Kumatex, yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Cikokol, Tangerang, yang akan berpindah ke Jawa Tengah.
“Pabrik tekstil PT Kumatex dari Kota Tangerang ke wilayah Jawa Tengah, direncanakan rampung pada Agustus mendatang,” ungkap Ismail.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari rasionalisasi biaya di tengah tingginya Upah Minimum Sektor Kota (UMSK) di Tangerang serta gempuran produk tekstil impor, khususnya dari Tiongkok, yang dijual dengan harga sangat murah.
“Mungkin mereka mencari efisiensi cost. Di Jawa Tengah UMK dan harga tanah lebih murah, sehingga bisa mengurangi beban biaya produksi. Persaingan di industri tekstil saat ini sangat berat,” ujarnya.
IA menambahkan, relokasi ini diprediksi akan berdampak pada ratusan karyawan. Pihak perusahaan sendiri telah menjalin komunikasi dengan Apindo dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) terkait kendala operasional yang dihadapi akibat dampak ekonomi global tersebut.(*)











