TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Suara mesin Vespa klasik dan modern bersahutan dengan gagahnya iring-iringan mobil wara wiri dan mobil Mercedes-Benz yang ikut serta mengawalnya. Di dalamnya, tawa ceria terpancar dari wajah 120 anak yatim dan penghafal Al-Qur’an. Hari itu, mereka bukan sekadar tamu undangan santunan biasa; mereka adalah raja dan ratu jalanan dalam gelaran “Wara-Wiri Bersama Ratusan Yatim Penghafal Quran”. Kegiatan yang digelar Minggu sore (7/3) hingga menjelang berbuka puasa.
Kegiatan ini merupakan puncak dari Ramadhan Karim Festival, sebuah agenda tahunan yang digagas oleh Rumah Muda. Berbeda dengan santunan konvensional yang pasif, Wara-Wiri mengajak anak-anak berkeliling kota menggunakan kendaraan hobi yang ikonik—mulai dari mobil mewah Mercy, Bus Jawara, hingga dikawal ketat oleh Patroli.
Di balik kemegahan konvoi tersebut, ada misi mendalam yang dibawa oleh Iman Maulana, selaku Founder Rumah Muda yang berlokasi di bilangan Banjar Wijaya, Kecamatan Cipondoh.
Iman membangun gerakan ini bukan tanpa alasan. Ia pernah menghabiskan enam tahun hidup di panti asuhan, merasakan sendiri getirnya hanya bisa menerima baju bekas atau memendam keinginan mencicipi makanan enak.
“Saya tahu rasanya sedih cuma dapat baju bekas. Saya tahu rasanya ingin makan enak tapi tidak bisa,” kenang Iman.
“Maka setiap Ramadhan, kita siapkan yang terbaik untuk mereka alat shalat, buku tulis, hingga paket sembako, agar mereka merasa sama bahagianya dengan anak-anak lain,” sambungnya.
Gerakan yang dimulai sejak masa pandemi tahun 2021 ini kini telah memasuki tahun kelima. Meski tahun ini jumlah peserta menyusut menjadi 120 anak karena keterbatasan dana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 300 anak, semangat yang diusung tidak berkurang sedikit pun.
Wara-Wiri bukan sekadar jalan-jalan santai. Rumah Muda menitikberatkan pada penanaman karakter dan wawasan kebangsaan.
Sepanjang perjalanan, anak-anak didampingi oleh para akademisi dari berbagai kampus, praktisi, hingga tokoh literasi.
Rute yang dipilih pun sarat makna edukasi. Mereka diajak mengunjungi Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna untuk menonton film sejarah, bertandang ke DPAD untuk belajar bersama pendongeng dan badut, hingga bermain games pembentuk karakter di lapangan terbuka.
“Poin utamanya adalah mereka boleh menerima santunan dan paket lebaran, tapi syaratnya harus mau belajar bersama kita,” jelas Iman.
Tak main-main, sejumlah pesohor seperti Harum Fakimah, Raja Latuconsina, dan Fakih Difran turut terjun langsung menjadi relawan sekaligus teman belajar bagi anak-anak tersebut.
Keajaiban “Patungan Ceban”
Satu hal yang unik dari gerakan ini adalah sumber pendanaannya. Rumah Muda tidak bergantung pada donatur tunggal besar, melainkan melalui Gerakan Patungan Ceban. Konsepnya sederhana: satu pemuda, sepuluh ribu rupiah.
“Kita gerakkan komunitas. Ada 11 komunitas pemuda di Tangerang Raya yang berkolaborasi. Anggotanya diwajibkan patungan,” ungkap Iman.
Kekuatan kolektif ini terbukti ampuh. Saat ini tercatat ada lebih dari 1.600 hingga 2.000 pemuda yang terlibat dalam aksi nyata ini. Dukungan pun mengalir luas, bahkan hingga ke ibu-ibu majelis taklim.
Diakhir kegiatan wara-wiri tersebut ,setiap anak pulang dibekali dengan paket sembako, bingkisan lebaran, dan amplop THR untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Namun bagi Iman, yang terpenting adalah apa yang tertanam di hati mereka.
“Harapan saya, ini memberikan dampak panjang bagi karakter mereka. Bukan hanya soal uang atau barang, tapi tentang kesan bahwa mereka berharga,” pungkasnya.
Rumah Muda bermimpi di tahun-tahun mendatang, paket yang diberikan bisa lebih besar dan jangkauan anak yang dibahagiakan bisa kembali meluas. Karena di setiap putaran roda Vespa dan mobil pengiring wara wiri hari itu, ada doa-doa dari para penghafal Al-Qur’an yang melangit untuk keberkahan para pemuda yang peduli.(*)











