CIPONDOH, BANTENEKSPRES.CO.ID – Bagi Indra Gunawan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, perjalanan darat bukan sekadar rutinitas pulang-pergi antar kota. Ada pertimbangan kenyamanan yang selalu ia pikirkan sebelum memesan tiket. Dari beberapa kelas layanan bus yang pernah ia coba, satu tipe armada kini hampir selalu menjadi pilihannya yakni double deck. Selasa, (03/03).
Indra mengaku sudah beberapa kali membandingkan kelas eksekutif, sleeper, hingga double deck. Pengalaman itulah yang membuatnya mantap menentukan pilihan. Untuk perjalanan jarak jauh yang memakan waktu berjam-jam, menurutnya posisi duduk dan ruang kaki menjadi faktor paling terasa.
“Kalau pulang pergi, saya hampir selalu pakai double deck,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perbedaan paling mencolok ada pada ruang kaki yang lebih lega. Bagi penumpang dengan mobilitas tinggi seperti dirinya, bisa meregangkan kaki selama perjalanan adalah kenyamanan sederhana yang dampaknya besar. Tubuh tidak cepat pegal, dan setibanya di tujuan kondisi tetap prima.
Menurutnya, kelas eksekutif biasa memang memiliki kursi yang lebih besar dan empuk dibanding kelas standar. Namun, dari segi keleluasaan ruang, double deck masih terasa lebih unggul. Apalagi untuk membawa barang bawaan, ruang di bus dua lantai itu dinilainya lebih memadai.
“Kakinya lebih leluasa, bisa selonjoran. Worth it, jadi nggak pegel,” katanya menegaskan.
Meski demikian, Indra tidak menutup mata bahwa setiap perusahaan otobus memiliki standar berbeda. Kenyamanan kursi, tata letak kabin, hingga fasilitas tambahan sangat bergantung pada masing-masing PO. Karena itu, ia selalu mempertimbangkan reputasi armada sebelum membeli tiket.
Selain double deck dan eksekutif, ia juga pernah mencoba sleeper. Kelas ini menawarkan pengalaman berbeda karena penumpang dapat berbaring layaknya di tempat tidur. Namun bagi Indra, sleeper lebih cocok untuk kondisi tertentu, bukan untuk perjalanan rutinnya.
“Sleeper enaknya bisa rebahan, tapi kalau buat saya sehari-hari tetap pilih double deck,” tuturnya.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah fasilitas kamar mandi. Pada double deck, menurut Indra, letaknya lebih terpisah sehingga tidak terlalu mengganggu kenyamanan penumpang di kursi belakang. Hal ini berbeda dengan sebagian bus eksekutif yang kamar mandinya menyatu di bagian belakang kabin.
Dalam hal pemesanan tiket, ia cukup fleksibel. Terkadang ia memanfaatkan aplikasi daring, namun tidak jarang pula datang langsung ke agen PO untuk memastikan jadwal dan ketersediaan kursi.
Untuk urusan perusahaan otobus favorit, Indra menyebut Rosalia Indah sebagai pilihannya. Selain faktor kenyamanan, jangkauan rute yang luas menjadi alasan utama.
“Rutenya lumayan jauh. Beberapa PO jangankan sampai Serang, Tangerang aja nggak ada,” ungkapnya. (*)











