BANTENEKSPRES.CO.ID – Bakwan merupakan salah satu gorengan yang paling akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia. Makanan berbahan dasar tepung dan sayuran ini dapat ditemukan di hampir setiap sudut kota, dari warung pinggir jalan hingga meja makan rumah tangga. Meski tampak sederhana, bakwan menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjumpaan budaya dan proses adaptasi kuliner lintas wilayah.
Asal-usul Istilah dan Pengaruh Tionghoa
Secara etimologis, istilah bakwan diduga berasal dari dialek Hokkien. Kata bak berarti daging, sementara wan merujuk pada bentuk adonan atau bola-bola makanan. Dalam tradisi kuliner Tionghoa, istilah tersebut awalnya merujuk pada olahan daging cincang yang dibentuk dan dimasak dengan berbagai teknik, termasuk digoreng.
Menurut buku The Food of China karya Frederic Ong, tradisi mengolah adonan daging dan tepung telah dikenal luas dalam kebudayaan Tiongkok sejak lama, terutama sebagai makanan rumahan dan sajian sederhana bagi masyarakat kelas pekerja. Makanan-makanan ini kemudian ikut menyebar seiring mobilitas pedagang dan perantau Tionghoa ke berbagai wilayah Asia Tenggara.
Hal senada juga dijelaskan dalam Classic Foods of Asia, yang menyebut bahwa banyak hidangan Asia Tenggara merupakan hasil adaptasi dari resep Tionghoa yang disesuaikan dengan bahan lokal dan kebiasaan makan setempat. Proses inilah yang kemudian menjadi titik awal transformasi bakwan di Nusantara.
Adaptasi Resep di Indonesia
Ketika masuk ke wilayah Indonesia, bakwan mengalami perubahan signifikan. Daging yang menjadi unsur utama dalam versi awal perlahan digantikan dengan bahan yang lebih mudah diperoleh dan lebih terjangkau, seperti tepung, kol, wortel, tauge, dan daun bawang. Perubahan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat lokal yang akrab dengan olahan sayuran.
Sri Owen dalam bukunya The Indonesian Kitchen menjelaskan bahwa banyak makanan Indonesia modern lahir dari proses penyederhanaan resep asing. Resep-resep tersebut tidak diadopsi secara utuh, melainkan disesuaikan dengan selera, bahan pangan, serta teknik memasak lokal. Bakwan menjadi salah satu contoh bagaimana pengaruh luar melebur dan kehilangan identitas asalnya, lalu hadir sebagai makanan yang sepenuhnya terasa lokal.
Di berbagai daerah di Indonesia, istilah bakwan juga mengalami perluasan makna. Selain bakwan sayur, muncul varian seperti bakwan jagung dan bakwan udang. Perbedaan ini menunjukkan bahwa bakwan tidak memiliki satu bentuk baku, melainkan terus berkembang mengikuti konteks wilayah dan kreativitas masyarakat.
Bakwan dan Budaya Makan Sehari-hari
Bakwan tidak hanya berfungsi sebagai camilan, tetapi juga memiliki peran sosial. Ia sering hadir dalam kegiatan warga, acara keluarga, rapat lingkungan, hingga menjadi menu pelengkap saat berbuka puasa. Sifatnya yang murah, mudah dibuat, dan bisa dikonsumsi oleh berbagai kalangan menjadikan bakwan sebagai makanan yang inklusif.
Dalam buku Asian Street Food dijelaskan bahwa makanan jalanan di Asia kerap memiliki fungsi sosial yang kuat. Makanan sederhana seperti gorengan bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi medium interaksi sosial dan bagian dari ritme kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, bakwan dapat dipahami bukan sekadar produk dapur, melainkan simbol kebersamaan dan kesederhanaan.
Penjelasan serupa juga dapat ditemukan dalam buku Kisah Kuliner Nusantara karya Dwi Wibisono, yang menempatkan gorengan sebagai bagian penting dari budaya makan masyarakat Indonesia, terutama di ruang-ruang informal.
Bakwan sebagai Warisan Kuliner
Saat ini, bakwan telah sepenuhnya menjadi bagian dari identitas kuliner Nusantara. Meski memiliki akar sejarah dari budaya Tionghoa, proses adaptasi yang panjang membuatnya diterima sebagai makanan lokal tanpa jarak kultural. Bakwan tidak lagi dipertanyakan asal-usulnya, melainkan diterima sebagai gorengan rakyat yang lintas generasi.
Kesederhanaan bakwan justru menjadi kekuatannya. Ia membuktikan bahwa makanan dengan bahan sederhana dapat menyimpan sejarah panjang, mencerminkan perjumpaan budaya, dan bertahan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. (*)
Reporter: Najib










