TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Belakangan ini, sebuah kata makian yang merujuk pada nama hewan tertentu _(anj*ng/anjay,red)_ seolah telah bergeser menjadi “kosakata favorit” dalam pergaulan lintas generasi. Dari rasa kaget, kekesalan, hingga sekadar bumbu candaan, kata tersebut kerap terlontar secara refleks tanpa beban moral.
Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar. sejak kapan kata yang dulu dianggap tabu kini bertransformasi menjadi penyedap percakapan?
Antara Ekspresi dan Hilangnya Kendali
Ada beragam pembenaran di balik fenomena itu. Sebagian menyebutnya sebagai bentuk kejujuran, ekspresi diri, atau sekadar “gaya anak zaman sekarang”.
Bahkan, ada anggapan bahwa menggunakan kata kasar jauh lebih baik daripada menjadi pribadi yang munafik.
Namun, kita perlu merefleksikan kembali, apakah benar itu sebuah gaya, atau justru tanda hilangnya kendali diri? Kejujuran yang disampaikan tanpa etika bukanlah sebuah keberanian. Itu hanyalah ketidaksabaran yang coba dibenarkan secara sepihak.
Bahaya Normalisasi Makian
Masalah utama dimulai ketika makian dianggap hal biasa. Saat sebuah kata kasar dinormalisasi, kita perlahan lupa bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk membentuk pola pikir. Cara kita berpikir, pada akhirnya, akan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain.
“Akibatnya Kabur Batasan. Lidah yang terbiasa lepas kendali tanpa penyaring akan mengaburkan batas antara ekspresi dan penghinaan,” tutur Inggrit Astridayanti dalam tulisannya dikutip Banten Ekspres. Selasa 7 April 2026.
Lanjut dia, devaluasi empati menjadi batas antara bercanda dan merendahkan menjadi sangat tipis.
“Tanpa sadar, kita sedang melatih diri untuk menjadi pribadi yang tidak peduli pada perasaan lawan bicara. dan Paradoks “Keren”, Ada kecenderungan saat ini bahwa semakin kasar seseorang berbicara, ia merasa semakin terlihat santai, liar, dan autentik (real). Padahal, sejatinya tidak ada kehebatan dalam ketidakmampuan mengontrol ucapan,” tambahnya.
Menurutnya, Ini etika yang Jatuh Perlahan. Dahulu, menjaga ucapan adalah tanda kehormatan bukan karena takut dianggap lemah, melainkan karena kesadaran bahwa kata-kata bisa melukai lebih dalam daripada tindakan fisik.
“Kini, yang dijaga justru gengsi untuk terlihat bebas. Padahal, lidah tanpa “rem” bukanlah simbol kebebasan, melainkan simbol kemunduran adab. Ketika makian diulang terus-menerus, yang berubah bukan hanya gaya bahasa, melainkan sikap kita terhadap sesama manusia,” imbuh Inggrit.
“Di situlah etika benar-benar gugur. Ia tidak hilang secara mendadak, melainkan jatuh perlahan, tergelincir dari ujung lidah kita sendiri yang sudah terbiasa merendahkan makna kemanusiaan demi sebuah kata “santai,” tutupnya. (*)











