RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kondisi memprihatinkan menimpa kediaman keluarga mendiang Jamsuta, mantan Kepala Desa (Kades) Sukatani, yang berlokasi di Kampung Senen, RT 02 RW 07, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang.
Tebing perbatasan rumah tersebut dengan Perumahan Bumi Agung mengalami longsor yang mengancam keselamatan penghuni dan warga di sekitarnya.
Longsoran tanah ini berada tepat di pinggir bangunan rumah sekitar seluas 15×12 meter tersebut. Amanah (32), anak keempat dari almarhum Jamsuta, mengungkapkan kekhawatirannya akan potensi longsor susulan, terutama saat intensitas hujan tinggi.
“Khawatir banget, apalagi kalau musim hujan. Pengennya dari pihak developer (perumahan di bawah) itu bertanggung jawab. Karena fondasinya cuma sedikit, nggak sampai atas, tidak sesuai janji awal,” ujar Amanah saat ditemui di lokasi, Kamis. 12 Februari 2026.
Kondisi ini tidak hanya membahayakan keluarga Amanah yang tinggal di sana, yakni Marwiyah (Ibunya Amanah), Mulyani (40) kakak, dan Nimas (22) adik, tetapi juga mengintai warga Perumahan Bumi Agung yang berada persis di bawah tebing tersebut.
Tebing yang longsor ini diperkirakan sangat dekat dengan setidaknya enam rumah warga di perumahan tersebut. Amanah berharap ada campur tangan dari pemerintah untuk mendesak pihak pengembang agar segera melakukan perbaikan permanen.
“Harapannya pemerintah bisa mendorong developer buat tanggung jawab. Takutnya kena orang di bawah, karena di bawah itu langsung perumahan,” tambahnya.
Hingga saat ini, bagian halaman rumah terlihat sudah amblas, menyisakan jarak yang sangat tipis dengan dinding utama bangunan.
Warga berharap langkah mitigasi segera diambil sebelum jatuh korban jiwa akibat struktur tanah yang kian labil.
Sebelumnya, kekhawatiran mendalam juga menyelimuti warga Perumahan Bumi Agung, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang.
Sebuah tebing setinggi 10 meter tersebut longsor dan kini mengancam keselamatan sedikitnya enam rumah warga di Blok C, RT 05 RW 07. Peristiwa ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dua pekan lalu.
Material tanah tidak hanya mendekati pemukiman, tetapi juga telah menimbun hampir separuh dari dua tiang listrik yang berdiri tepat di depan rumah warga.
Anggia, seorang ibu empat anak yang tinggal di lokasi terdampak, mengungkapkan rasa was-wasnya setiap kali hujan turun. Jarak antara gundukan tanah longsor dengan teras rumahnya kini hanya tersisa sekitar 2 meter.
”Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tanah sudah menimbun tiang listrik dan sangat dekat dengan rumah kami,” ujar Anggia saat menunjukkan lokasi longsoran, Senin, 9 Februari 2026.
Selain rumah Anggia (C2), terdapat lima kepala keluarga lain yang berada di zona bahaya, yakni keluarga Bu Santi (C3), Septia (C4), Pakde Jaya (C5), dan Pak Ci (C6).
Berdasarkan pantauan di lapangan, penanganan longsor di tebing setinggi 10 meter tersebut dinilai sangat minim. Saat ini, hanya terdapat tanggul dari susunan batu kali dan acian semen setinggi dada orang dewasa, ukuran yang dianggap tidak sebanding dengan beban tanah di atasnya.
Ironisnya, ini bukan kali pertama bencana melanda. Pada Februari 2025 lalu, lokasi yang sama juga pernah mengalami longsor. Kala itu, warga terpaksa bergotong-royong membersihkan material secara mandiri dan hanya mampu membuat pagar bambu sebagai penahan darurat.
Ancaman tidak hanya datang dari bawah. Di puncak tebing, sebuah rumah milik almarhum Jamsuta, mantan Kepala Desa Sukatani yang berlokasi di Kampung Senen RT 02 RW 07, kini dalam kondisi kritis. Sebagian area teras samping rumah tersebut sudah ikut tergerus longsoran.
Warga berharap adanya langkah konkret dari Pemerintah maupun pihak pengembang untuk membangun dinding penahan tanah (turap) yang permanen sebelum jatuh korban jiwa atau kerusakan bangunan yang lebih parah. (*)











