Pilar Terima Kunjungan AISMOLI, Tangsel Siap Jadi Kota Percontohan Motor Listrik

Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsam (tengah) didampingi Publik Relation and Event Executive AISMOLI Riniwaty Sinaga foto bersama seusai menerima kunjungan dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) di Balai Kota Tangsel, Rabu, 11 Februari 2026. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menerima kunjungan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) di Balai Kota Tangsel, Rabu, 11 Februari 2026.

 

Bacaan Lainnya

Dalam kunjungan tersebut, Pilar didampingi Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangsel Sabam Maringan. Pertemuan berlangsung di Ruang Display Balai Kota Tangsel.

 

Pilar mengatakan, kunjungan AISMOLI merupakan tindak lanjut dari audiensi sebelumnya yang telah dilakukan Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangsel dengan Sekretaris Jenderal AISMOLI.

 

“Alhamdulillah, pada siang hari ini kami mendapatkan kunjungan balasan dari AISMOLI. Sebelumnya Pak Kepala Dinas Ketenagakerjaan sudah berkunjung ke Sekjen AISMOLI, dan hari ini AISMOLI datang kembali membawa puluhan perusahaan motor listrik, termasuk perusahaan spare part dan pendukung lainnya,” ujarnya, Rabu, 11 Februari 2026.

 

Pilar menyambut baik audiensi tersebut dan berharap pertemuan itu dapat ditingkatkan menjadi kerja sama yang lebih erat antara Pemkot Tangsel dan AISMOLI.

 

“Mudah-mudahan ke depan bisa ditingkatkan menjadi kerja sama yang lebih erat, supaya kita bisa menciptakan ekosistem kota yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan tentu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Karena bagaimanapun juga, masa depan transportasi adalah kendaraan listrik,” tambahnya.

 

Menurutnya, pengembangan kendaraan listrik juga sejalan dengan arahan Presiden RI terkait pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup yang lebih asri.

Dalam pertemuan itu, Pemkot Tangsel dan AISMOLI juga membahas berbagai kendala yang dihadapi industri motor listrik, termasuk dukungan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik di wilayah perkotaan.

 

“Kami berdiskusi mengenai kendala yang dihadapi perusahaan motor listrik, harapan dari AISMOLI, serta harapan kami sebagai pemerintah daerah. Kami berharap Kota Tangerang Selatan bisa menjadi kota percontohan sehingga pelan-pelan kita bisa menciptakan ekosistem yang ramah bagi electric vehicle, khususnya kendaraan motor,” jelasnya.

 

Pilar menegaskan, ekosistem kendaraan listrik tidak hanya menyasar kendaraan dinas pemerintah, tetapi juga transportasi publik hingga kendaraan masyarakat umum. Terkait fasilitas pendukung seperti bengkel dan stasiun pengisian daya, Pilar menyebut hal tersebut menjadi perhatian penting Pemkot Tangsel.

 

“Kita harus memastikan masyarakat mendapatkan kemudahan, termasuk ketersediaan bengkel. Ke depan, bengkel-bengkel konvensional bisa didorong agar mampu menangani motor listrik. Karena masyarakat perlu kepastian kalau ada kendala atau trouble, bengkelnya ada di mana,” tuturnya.

 

Selain itu, Pemkot Tangsel juga siap mendukung penyediaan charging station di beberapa titik strategis, termasuk kantor pemerintahan. “Kemudian charging station juga harus dipikirkan. Kami siap jika ke depan ada kantor-kantor pemerintahan seperti kantor kelurahan atau kecamatan yang memungkinkan dipasang charging station demi memudahkan masyarakat,” tambahnya.

 

Pilar menilai, kerja sama ini juga memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya anak muda Tangsel yang membutuhkan akses lapangan pekerjaan.

“Kami menitipkan juga, Tangsel memiliki banyak anak muda yang ingin bekerja. Kalau bisa ada program magang maupun peluang kerja di perusahaan-perusahaan motor listrik, kami harap anak-anak Tangsel bisa ikut dilibatkan,” katanya.

 

Menurutnya, meski industri atau pabrik motor listrik belum ada di Kota Tangsel, namun showroom motor listrik sudah cukup banyak berkembang. Pilar menegaskan hal itu bukan menjadi hambatan, karena tujuan utamanya adalah mendorong kota menjadi lebih ramah lingkungan.

 

“Kalau industrinya memang belum ada di Tangsel. Tapi showroom sudah banyak. Bagi kami itu tidak menjadi masalah, karena tujuannya adalah bagaimana Tangsel menjadi kota yang semakin ramah lingkungan,” tuturnya.

 

Ia juga menyebut Pemkot Tangsel saat ini tengah mendorong penanganan sampah berbasis teknologi, sehingga transformasi transportasi menuju kendaraan listrik menjadi langkah yang selaras. Terkait kendaraan dinas, Pilar membuka peluang Pemkot Tangsel mulai mengarahkan penggunaan kendaraan listrik melalui kebijakan atau surat edaran.

 

“Ke depan bisa melalui imbauan atau surat edaran dari Pak Wali Kota. Kalau ada pengadaan kendaraan operasional baru, misalnya kendaraan roda tiga untuk pengangkutan sampah, itu juga bisa diarahkan menggunakan kendaraan listrik. Yang penting harus dimulai,” tegasnya.

 

Pilar mengakui, saat ini penggunaan kendaraan listrik di lingkungan Pemkot Tangsel masih sangat kecil. Namun ia menekankan langkah awal harus segera dilakukan. “Untuk data persentasenya saya belum mendapat informasi detail, tapi saya kira masih sangat kecil. Namun ini harus dimulai. Saya pribadi juga sudah menggunakan motor listrik untuk kebutuhan kunjungan-kunjungan,” ucapnya.

 

Ia menambahkan, Pemkot Tangsel juga terbuka untuk melakukan uji coba motor listrik sebagai kendaraan operasional pemerintah. “Bisa saja. Nanti akan kita diskusikan lebih lanjut bersama AISMOLI, termasuk opsi uji coba beberapa produk motor listrik yang ada,” tutupnya.

 

Sementara itu, Publik Relation and Event Executive AISMOLI Riniwaty Sinaga mengatakan, transformasi menuju kendaraan listrik merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. “Yang jelas, perpindahan masyarakat ke kendaraan listrik harus terus kita dorong, salah satunya melalui inovasi pada business model,” ujarnya.

 

Riniwaty menambahkan, business model ini tidak selalu harus seperti pola konvensional, misalnya membeli langsung di depan, tetapi bisa dikembangkan melalui berbagai skema lain. Misalnya sistem sewa harian, pay per use, atau model layanan seperti berlangganan, sehingga hambatan masyarakat untuk beralih bisa berkurang.

 

Karena salah satu tantangan terbesar masyarakat untuk pindah ke kendaraan listrik adalah aksesibilitas dan kemudahan.

Hal ini juga menjadi perhatian menarik bagi kepala daerah, bagaimana kita bisa membangun brand dan kepercayaan masyarakat bahwa kendaraan listrik, termasuk ekosistemnya, sama handalnya dengan kendaraan konvensional.

 

“Kami bahkan berencana mengelaborasi hal tersebut dengan membuat model grafis atau model edukasi yang lebih sederhana agar masyarakat bisa memahami bahwa teknologi kendaraan listrik tidak kalah andal,” tambahnya.

 

Riniwaty mengaku, pihakbta pernah membuat kegiatan seperti event E-race di Sentul pada tahun 2024. Itu merupakan salah satu cara kami menyampaikan kepada masyarakat bahwa kendaraan listrik tetap handal dan tidak ada bedanya dibandingkan kendaraan konvensional.

 

“Memang dua tahun yang lalu sempat ada sedikit perbedaan, terutama dari sisi performa kecepatan dalam beberapa aspek. Namun kami yakin, setelah dua tahun pengembangan dan pengujian, kendaraan listrik semakin matang dan siap digunakan secara luas,” jelasnya.

 

Menurutnya, pada prinsipnya inovasi kendaraan listrik jauh lebih cepat berkembang, mengingat sistem elektronik lebih memungkinkan untuk peningkatan teknologi dibandingkan mesin konvensional.

 

Namun, yang paling penting adalah bagaimana masyarakat umum bisa menerima kendaraan listrik dengan mudah. Untuk itu, dukungan ekosistem harus dibangun. Misalnya ketika kendaraan mengalami kerusakan ringan, masyarakat tidak boleh bingung harus pergi ke mana.

 

“Artinya bengkel kendaraan listrik harus mulai tersebar dan tersedia. Dan ini menjadi relevan dengan isu SDM. Karena kita membutuhkan tenaga kerja terampil, mekanik, serta teknisi yang memahami kendaraan listrik,” tuturnya.

 

AISMOLI juga sudah memiliki beberapa anggota yang sudah menjalankan contoh pengembangan bengkel dan layanan purna jual. Ke depan, hal ini akan terus kita dorong agar ekosistem kendaraan listrik semakin siap. Selain itu, asosiasi juga sudah beberapa kali melakukan audiensi dengan Kementerian Perindustrian terkait penguatan SDM.

 

“Kami mendorong agar pembelajaran kendaraan listrik dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan, khususnya di SMK.

Contohnya di Jakarta Utara, sudah ada SMK yang mulai menunjukkan kesiapan dan komitmen. Kami juga meminta agar hal tersebut bisa didorong lebih luas supaya kurikulum kendaraan listrik bisa diterapkan secara resmi,” ungkapnya.

 

“Dengan begitu, ekosistem kendaraan listrik tidak hanya berkembang dari sisi produk dan teknologi, tetapi juga dari sisi kesiapan SDM yang menjadi faktor kunci keberhasilan transformasi ini,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Tri Budi

Pos terkait