Seorang Perempuan Merantau Demi Menghidupi Anak Tunggalnya di Tangerang

Seorang Perempuan Merantau Demi Menghidupi Anak Tunggalnya di Tangerang
Pemulung sedang duduk di pinggir jalan raya Cipondoh. Foto: Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/ Bantenekspres.co.id

CIPONDOH,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di bawah terik matahari, seorang perempuan tampak duduk menatap lurus ke arah jalan. Ia tidak duduk di kursi empuk, melainkan di atas hamparan karpet tipis yang kerap digunakannya untuk beristirahat.

Perempuan itu bernama Warni, perantau asal Kampung Cangkudu, Kecamatan Balaraja.

Bacaan Lainnya

Selama empat tahun terakhir, Warni merantau ke Cipondoh untuk bertahan hidup sekaligus membiayai kebutuhan anak tunggalnya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pemulung barang bekas yang kemudian dijual demi mencukupi kebutuhan hidup. Kisah hidupnya ia tuturkan kepada Tangerangekspres.co.id.

Saat ditanya mengenai keberadaan suaminya, Warni menjelaskan bahwa suaminya tengah sakit dan saat ini beristirahat di kos milik temannya.

Dengan mata berkaca-kaca, Warni juga menceritakan pandangan sebagian orang yang kerap salah menilai kehidupannya. Ia mengaku sering dianggap hidup enak karena menerima bantuan makanan atau sembako dari orang lain.

“Orang-orang ada saja yang bilang pemulung hidupnya enak, dikasih makan, dikasih sembako. Padahal kita tetap kerja, walaupun cuma mulung, yang penting hidup mandiri dan tidak meminta-minta,” tegasnya saat diwawancarai Banten Ekspres, Minggu (8/2/2026).

Warni menegaskan bahwa keputusannya merantau ke Cipondoh bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk mencari nafkah demi anaknya yang kini berusia tujuh tahun dan sedang menempuh pendidikan sekolah dasar. Anak tersebut dirawat oleh ayah Warni di kampung halamannya.

“Saya punya satu anak di kampung, sekarang diurus bapak saya dan masih sekolah. Kalau tiap bulan ada rezeki, saya kirim ke sana,” ujarnya.

Untuk tempat beristirahat, Warni mengaku tidak memiliki tempat tetap. Ia kerap tidur di depan toko atau di pinggir jalan.

“Kalau tempat istirahat mah di mana saja, kadang di depan toko, kadang di pinggir jalan. Alhamdulillah masih ada orang yang suka ngasih makan,” katanya.

Penghasilan dari memulung barang bekas pun tidak menentu. Dalam sehari, Warni terkadang hanya memperoleh Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.

“Tidak tentu. Kadang Rp30 ribu, kadang cuma Rp20 ribu sehari. Capek memang, kadang mau nangis, tapi lihat anak jadi semangat lagi,” tuturnya lirih.

Di balik keterbatasan hidupnya, Warni menyimpan harapan besar untuk masa depan sang anak. Ia berharap anaknya kelak dapat mengubah kondisi kehidupan keluarga mereka.

“Tidak apa-apa anak melihat orang tuanya seperti ini. Mudah-mudahan ke depannya anak bisa sukses, bisa membimbing dan membahagiakan orang tuanya,” pungkasnya. (*)

Pos terkait