Buang Sampah Ke Cileungsi, Tiap Hari Pemkot Tangsel Bayar Rp90 Juta

Buang Sampah Ke Cileungsi, Tiap Hari Pemkot Tangsel Bayar Rp90 Juta
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangsel Tubagus Asep Nurdin. Foto: Tri Budi/Bantenekspres.co.id

CIPUTAT,BANTENEKPRES.CO.ID – Pada Kamis, 8 Januari 2026 sore lalu Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Wali Kota Tangsel.

Puluhan mahasiswa tersebut mendatangi kantor Wali Kota Tangsel untuk menyampaikan protesnya terhadap permasalahan sampah yang hingga kini masih belum tertangani secara optimal di wilayah Kota Tangsel.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa datang dengan membawa dua truk yang bersisi sampah. Kemudian sampah tersebut diturunkan dan dilempar di gerbang masuk kantor.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMJ Muhammad Iqbal Ramdhani mengatakan, pihaknya melakukan aksi ke kantor Wali Kota Tangsel sebagai bentuk kepedulian serta keresahan

masyarakat terhadap permasalahan sampah yang hingga kini masih belum tertangani secara optimal di wilayah Tangsel.

“Kita datang ke sini dengan damai pak. Kita hanya datang dan buang sampah, terus menyampaikan beberapa pernyataan kita, habis itu kita pulang,” ujarnya.

Iqbal menambahkan, aksi tersebut dilaksanakan secara damai, tertib dan tidak anarkis, serta menghormati ketertiban umum.

“Aksi ini kami lakukan dalam menyuarakan aspirasi serta kepedulian terhadap kondisi sosial yang terjadi belakangan ini,” tambahnya.

Menurutnya, ada 7 tuntutan yang disampaikan kepada Pemkot Tangsel. Pertama minta Kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel segera melakukan pengangkutan sampah secara menyeluruh di titik-titik rawan penumpukan disejumlah lokasi di Kota Tangsel.

“Kami minta Wali Kota Tangsel segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan sampah, mendesak Wali Kota dan Dinas Lingkungan Hidup melakukan pengangkutan sampah secara rutin dan menambah armada pendukung,” tambahnya.

Tuntutan mahasiswa selanjutnya adalah meminta Wali Kota Tangsel mengadakan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah, minta Wali Kota Tangsel bertanggung jawab terhadap terjadinya pembuangan sampah, minta Wali Kota Tangsel melakukan pengelolaan residu melalui teknologi PSEL.

“Terkahir mahasiswa minta Pemkot Tangsel meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja Dinas Lingkungan Hidup kepada masyarakat,” tuturnya.

Terkait aksi tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangsel Tubagus Asep Nurdin mengaku, tuntutan mahasiswa agar sampah segera diangkut memang sedang berproses. “Proses pengangkutan sampah saat ini sudah dan terus dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah,” ujarnya.

Asep menambahkan, upaya tersebut dilakukan dengan mengerahkan armada tambahan serta berbagai langkah percepatan.

“Terkait tuntutan agar sampah segera diangkut, kami sudah dan sedang melakukan pengangkutan sampah secara bertahap di seluruh wilayah dengan mengerahkan armada tambahan dan berbagai langkah percepatan kita lakukan,” tambahnya.

Menurutnya, saat ini TPA Cipeucang di Serpong sedang dalam proses penataan dan itu memengaruhi mekanisme pengelolaan sampah di wilayahnya. Sehingga proses pengangkutan dan distribusi sampah dilakukan secara terukur dan bertahap.

“Saat ini TPA Cipeucang sedang dalam proses pekerjaan penataan, sehingga pengelolaan dan distribusi pengangkutan sampah dilakukan secara terukur dan bertahap namun, proses pengangkutan tetap berjalan setiap hari,” terangnya

Asep pengaku, pihaknya memahami keresahan dan aspirasi yang disampaikan mahasiswa terkait penumpukan sampah di sejumlah wilayah di Kota Tangsel

“Kami memahami keresahan dan aspirasi yang disampaikan mahasiswa terkait persoalan persampahan ini,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, sejak beberapa hari lalu pihaknya telah membuang sampah asal Kota Tangsel ke perusahaan swasta yakni PT Aspex Kumbong yang ada di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Sejak beberapa waktu lali kita telah membuang sampah ke Cileungsi 200 ton sampah tiap hari,” ujarnya.

Pilar menambahkan, hal tersebut dilakukan untuk sementara waktu agar tidak ada lagi penumpukan sampah di dekat permukiman maupun ruang publik di wilayahnya. Terlebih saat ini pembuangan sampak dari Kota Tangsel ke TPAS Cilowong Kota Serang disetop sementara.

“Sampah kita buang ke Cileungsi ini untuk memastikan tidak ada tumpukan sampah di titik-titik permukiman maupun ruang publik di Kota Tangsel tapi, ini sifatnya sementara.

Pilar mengaku, untuk membuang sampah kesana pihaknya harus mengeluarkan biaya atau tipping fee. Setiap ton sampah yang dibuang pihaknya harus mengeluarkan biaya Rp450 ribu.

“Jadi setiap hari ada 200 ton sampah yang dibuang dikali Rp450 ribu, maka Pemkot Tangsel harus mengeluarkan Rp90 juta agar bisa buang sampah ke Cileungsi,” terangnya.

“Uang ini merupakan biaya untuk pengelolaan sampah di tempat pengolahan limbah atau tipping fee,” tutupnya. (*)

Pos terkait