Warga Bukit Nusa Indah Ciputat Sulap Sampah Jadi Cuan

Warga Perumahan Bukit Nusa Indah, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat menunjukkan tong yang dipakai untuk membuat kompos dari sampah organik. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Warga yang tinggal di Perumahan Bukit Nusa Indah, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat sulap sampah jadi cuan. Diperumahan tersebut terdapat 5 RW dengan total 31 RT yang warganya mengelola sampah dan menjadikannya memiliki nilai.

Sampah dan terutama sampah rumah tangga biasanya langsung dibuang dan diangkut petugas ke Tempat Pembungan Akhir (TPA). Tapi, warga di perumahan ini memilah sampah antara yang organik dan anorganik. Sampah organik dipilah dan dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai jual dipilah dan dijual melalui bank sampah.

Bacaan Lainnya

Sementara residu dari sampah anarganik seperti sterefom, pembalut, plastik kemasan kopi dan lainnya dipilah dan dibuang. Dengan pemilahan tersebut tentu residu yang dihasilkan menjadi sangat sedikit.

Ketua RW 14 Perumahan Bukit Nusa Indah Hermanuadi mengatakan, sampah yang dihasilkan mayoritas merupakan sampah rumah tangga, dengan dominasi sampah organik dan khususnya sisa makanan seperti nasi dan sayur-sayuran.

“Potongan-potongan sayuran yang sebelumnya langsung dibuang, kini dipilah dan diolah, baik menjadi kompos padat maupun cair,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 7 Desember 2026.

Herman menambahkan, warga khususnya ibu-ibu rumah tangga telah mulai melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Sampah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik dikelola melalui komposter, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, botol, kardus dan kertas disalurkan ke bank sampah.

“Proses pemilahan ini pada awalnya memerlukan upaya pendampingan dan edukasi karena kebiasaan memilah sampah belum terbentuk. Namun, seiring meningkatnya volume sampah dan kondisi TPA Cipeucang yang sudah overload, warga secara bertahap terdorong untuk ikut terlibat aktif dalam pemilahan sebagai solusi bersama atas permasalahan sampah,” tambahnya.

Menurutnya, untuk sampah anorganik, pengelolaannya dilakukan melalui bank sampah yang telah berjalan selama kurang lebih dua bulan. Sampah anorganik dikumpulkan, kemudian pihak Dinas Lingkungan Hidup datang langsung ke lokasi untuk menimbang dan mengambil sampah tersebut.

“Pembayaran tidak dilakukan secara langsung, melainkan dikumpulkan dan dibayarkan setiap 6 bulan sekali kepada masing-masing warga yang menyetorkan sampah,” jelasnya.

Menurutnya, hasil penjualan tersebut dimanfaatkan oleh warga, terutama ibu-ibu, untuk kebutuhan pribadi sehari-hari. Pengelolaan bank sampah ini dijalankan oleh pengurus yang bersifat relawan.

Nilai jual sampah anorganik bervariasi tergantung jenis dan kualitas material. Plastik tipis dan plastik tebal memiliki harga yang berbeda, begitu pula botol plastik, kardus dan kertas.

“Seluruh jenis tersebut memiliki tabel harga tersendiri dan pada umumnya semuanya memiliki nilai jual,” ungkapnya.

Sementara itu, pengelolaan sampah organik melalui komposter baru berjalan sekitar satu bulan. Sebelumnya digunakan metode biopori yang dilubang-lubang ke tanah namun, itu dinilai kurang optimal dari sisi kapasitas.

“Saat ini digunakan komposter berbasis tong yang diharapkan ke depan dapat dimiliki oleh setiap rumah tangga secara swadaya. Saat ini terdapat sekitar 40 tong komposter yang tersebar di beberapa RT, dengan target pengadaan sebanyak 100 unit,” tuturnya.

Herman mengaku, proses pembuatan kompos tidaknya sulit. Dimana sampah organik dimasukkan ke dalam komposter, ditambahkan cairan penghilang bau, kemudian diaduk dan ditutup. Dalam waktu kurang lebih dua minggu, sampah tersebut telah terurai menjadi kompos padat dan cair.

Pada beberapa titik juga digunakan metode pemisahan antara kompos basah dan kering, termasuk pemanfaatan belatung untuk mempercepat proses penguraian. “Kompos yang dihasilkan kemudian diambil oleh pihak terkait, dalam hal ini Pemda melalui Dinas Lingkungan Hidup,” katanya.

Hasil dari pengelolaan kompos ini dimanfaatkan sebagai kas RT, dengan nilai ekonomi yang relatif cukup besar dibandingkan hasil dari bank sampah anorganik.

Secara keseluruhan, pengelolaan sampah ini telah menunjukkan hasil positif, baik dalam pengurangan volume sampah rumah tangga maupun dalam memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga. “Serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya,” ungkapnya.

Herman menuturkan, dalam waktu 2 minggu pihaknya pernah mendapat 1,5 ton sampah anorganik yang memiliki nilai jual dari 56 KK. “Dari 5 RW di wilayah sini saat ini terdapat 2 bank sampah dan kita berharap tiap RW kedepan punya bank sampah sendiri,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua RT 006/015 Kelurahan Serua Pramono Subekti mengatakan, dalam 1 tong sampah organik yang diolah bisa menghasilkan 2 pupuk berbeda, yakni kompos padat dan kompos cair. “Untuk mengatasi sampah itu tidak hanya satu-satu atau terpisah tapi ada 3. Yakni organik, anorganik dan risidunya (pempers, plastik bungkus kopi, sterofom dan lainnya),” ujarnya.

Pramono menambahkan, bila residunya dibuang dan diambil petugas DLH, maka residunya hanya sekitar 5-10 persen dari total sampah yang dihasilnya tiap hari. Selama ini sampah diambil glondongan, dan diharapkan sampah itu sudah terutarai menjadi 3 komponen.

“Dua komponen sampah sudah selesai di lingkungan dan 1 komponen (residunya) tinggal sedikit. Sekarang kita sedang cari inovasi untuk atasi residu ini,” tambahnya.

“Ujung tombak program ini adalah ibu rumah tangga dan pembantu. Selain mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, sampah juga memiliki nilai ekonomi. Harga pupuk kompos sekitar Rp 5 ribu sampai Rp10 ribu per pack,” tutupnya. (*)

Pos terkait