RANGKASBITUNG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten mengaku ketersediaan logistik kebencanaan sangat minim dan jauh dari kondisi ideal. Kondisi ini berpotensi menghambat penanganan darurat maupun pascabencana di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga Januari 2025.
Sukanta, Kepala BPBD Kabupaten Lebak mengatakanx terhitung, saat ini stok logistik yang tersedia berada dalam kondisi sangat terbatas. SBPBD hanya memiliki cadangan beras sekitar 1,2 ton, mi instan sebanyak 50 dus, kecap dua dus, serta sarden satu dus. Selain itu, ketersediaan terpal juga mengalami keterbatasan.
“Belum lama ini kita dapat bantuan terpal dari BPBD Provinsi Banten sebanyak 30 lembar, dan sekarang tersisa 14 lembar. Padahal, terpal ini sangat krusial, terutama untuk penanganan bencana,” kata Sukanta kepada Wartawan, di ruang kerjanya, Selasa 6 Januari 2026.
Menurut dia, ini tak sebanding dengan potensi kebencanaan di Kabupaten Lebak yang bersifat tidak terduga, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem. Kata dia, idealnya stok logistik kebencanaan harus mampu mencukupi kebutuhan hingga akhir musim hujan pada Februari 2026 mendatang.
“Kalau melihat kondisi sekarang, saya kira ini masih sangat kurang. Setidaknya stok logistik aman sampai Februari, dan stok logistik tidak boleh defisit,” paparnya.
Sukanta menjelaskan, selain logistik pangan, kebutuhan paling mendesak justru berada pada logistik material untuk penanganan pascabencana. Terpal, misalnya, menjadi sarana vital untuk menutup sementara area longsor guna mencegah pergeseran tanah lanjutan sebelum dilakukan perbaikan permanen.
“Logistik pangan penting, tetapi material pascabencana juga tidak kalah mendesak. Kalau longsor tidak ditutup sementara, risikonya bisa berulang,” jelasnya.(*)











