RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Bagi masyarakat Desa Jambu Karya, sosok Suherman bukan sekadar pemimpin administratif. Ia adalah figur yang membawa semangat ‘Juru Tulis’ ke era modern.
Menjabat sebagai Kepala Desa, perjalanan hidup Suherman adalah potret nyata tentang kerja keras, keteguhan prinsip, dan bakti kepada tanah kelahiran.
Darah pengabdian mengalir deras di tubuh pria kelahiran Tangerang, 11 April 1970 ini. Suherman tumbuh besar melihat sang ayah, Muhasan, mendedikasikan hidupnya sebagai Sekretaris Desa (Juru Tulis) di Desa Badak Rajeg sejak era 1970 hingga 1982.
“Melihat Bapak bekerja dahulu, saya belajar bahwa melayani masyarakat adalah sebuah kehormatan. Beliau tidak pernah mengeluh, meski beban kerja saat itu tidaklah mudah,” kenang Suherman, dengan nada penuh hormat kepada kedua orang tuanya, Muhasan dan Asmanah.
Nilai-nilai itulah yang ia bawa saat merantau ke Jakarta. Suherman bukanlah sosok yang asing dengan kerasnya hidup. Sebelum dipercaya warga memimpin desa, ia menghabiskan waktu puluhan tahun di Terminal Balaraja sebagai pengurus bus Prima Jasa (1993-2014).
Pengalaman di lapangan inilah yang membentuk mentalnya menjadi pemimpin yang tahan banting dan taktis dalam mengambil keputusan.
Langkah Suherman menuju kursi kepemimpinan dimulai dari keterlibatannya di lembaga desa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua LPM (2002-2008) hingga Anggota BPD (2008-2011). Bekal pemahaman regulasi ini membuatnya mantap melangkah ke ajang Pilkades 2014.
Hasilnya luar biasa. Menghadapi empat rival, ia unggul dengan 1.500 suara dan dilantik resmi oleh Bupati Tangerang saat itu, Ahmed Zaki Iskandar, pada 2015.
Kepercayaan warga kian mengkristal pada Pilkades 2021, di mana ia meraih 3.000 suara dengan selisih kemenangan mencapai 670 suara. Sebuah mandat besar yang ia jawab dengan kerja nyata.
Salah satu pencapaian yang paling dirasakan manfaatnya oleh warga adalah penyelesaian status lahan kantor desa. Masalah yang sudah bertahun-tahun menjadi ganjalan ini berhasil ia tuntaskan hingga akhirnya dilakukan revitalisasi total pada tahun 2022.
“Kantor desa adalah rumah bagi masyarakat desa. Jika rumahnya sudah nyaman dan jelas statusnya, maka pelayanan pun akan maksimal,” tegas suami dari Maswah ini.
Meski demikian, Suherman tetap rendah hati. Ia mengakui masih ada tantangan besar, salah satunya masalah banjir di jalan lintas kecamatan. Walaupun ruas jalan tersebut secara regulasi bukan kewenangan desa, ia terus berupaya menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah agar masalah tersebut segera tertangani demi mobilitas warga Jambu Karya.
Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Suherman memegang teguh filosofi hidup yang sederhana namun mendalam. Baginya, menjadi kepala desa tidak boleh membuatnya merasa sudah sampai di puncak.
“Prinsip saya hanya satu, harus punya keyakinan. Jangan berleha-leha karena waktu terus berjalan. Kita harus bekerja sesuai tupoksi dan yang terpenting adalah tidak boleh berhenti belajar, dari siapapun dan kapanpun,” ungkap ayah dari Ahmad Arifudin, Ahmad Firdaus, dan Elis Hermawati ini.
Kini, dengan masa jabatan yang masih terbentang hingga 2029, Suherman berkomitmen untuk terus menjaga amanah. Ia ingin meninggalkan warisan kebaikan bagi anak cucunya dan seluruh warga Jambu Karya, sebagaimana ayahnya meninggalkan warisan integritas kepadanya puluhan tahun silam. (*)









