Emas Perhiasan Penyumbang Terbesar Inflasi Kota Serang

Emas Perhiasan Penyumbang Terbesar Inflasi Kota Serang
Sekretaris Daerah Kota Serang Nanang Saefudin. Foto Aldi Alpian/Bantenekspres.co.id

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di Kota Serang pada akhir 2025. Data terbaru menunjukkan komoditas ini memberikan kontribusi paling besar dibandingkan kelompok barang lainnya dalam pembentukan laju inflasi daerah.

Sekretaris Daerah Kota Serang, Nanang Saefudin, mengungkapkan bahwa hingga November 2025, inflasi Kota Serang masih berada dalam rentang yang terkendali. Namun demikian, lonjakan harga emas perhiasan tercatat sebagai pemicu utama tekanan inflasi.

Bacaan Lainnya

“Inflasi Kota Serang masih di angka 2,76 persen. Ini masih dalam batas aman karena ambang kewaspadaan mulai muncul jika sudah melampaui 3,5 persen,” kata Nanang, Minggu 14 Desember 2025.

Ia menjelaskan, emas perhiasan mengalami kenaikan harga signifikan dengan inflasi mencapai 52,62 persen secara tahunan (year on year). Komoditas ini memberikan andil sekitar 1,01 persen terhadap total inflasi Kota Serang, menjadikannya penyumbang terbesar pada periode tersebut.

Menurut Nanang, tingginya permintaan terhadap emas perhiasan ikut memengaruhi lonjakan harga. Kondisi ini sekaligus mencerminkan daya beli masyarakat yang masih relatif kuat di tengah dinamika ekonomi.

“Bisa jadi masyarakat banyak yang membeli emas. Ini menunjukkan bahwa secara ekonomi, kemampuan beli warga masih cukup baik,” ujarnya.

Selain emas perhiasan, inflasi di Kota Serang juga dipengaruhi oleh sejumlah komoditas lain, terutama dari kelompok pangan dan rokok. Beberapa di antaranya adalah cabai merah, bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras, serta rokok jenis sigaret putih mesin dan sigaret kretek mesin.

Meski demikian, kontribusi komoditas-komoditas tersebut dinilai masih berada di bawah pengaruh emas perhiasan dalam mendorong laju inflasi secara keseluruhan.

Pemerintah Kota Serang, lanjut Nanang, terus memantau pergerakan harga dan menjaga stabilitas pasokan, khususnya untuk kebutuhan pokok. Koordinasi lintas sektor juga dilakukan guna memastikan inflasi tetap terkendali dan tidak berdampak luas terhadap daya beli masyarakat.

Ia menambahkan, ketersediaan bahan pokok di wilayah Banten secara umum masih dalam kondisi aman untuk beberapa bulan ke depan, sehingga potensi lonjakan harga akibat kelangkaan pasokan dapat diminimalkan. (*)

Pos terkait