370 Orang di Kota Tangsel Mengidap HIV AIDS

370 Orang di Kota Tangsel Mengidap HIV AIDS

SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Setiap 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Di Kota Tangsel sendiri, puncak peringatan hari AIDS dilaksanakan di lokasi car free day (CFD) di kawasan BSD, Serpong, Minggu, 7 Desember 2025.

Rangkaian kegiatannya adalah senam bersama, cek kesehatan gratis (CKG), informasi edukasi, kuis berhadiah, konseling testing dan aktivasi layanan.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, hasil temuan kasus HIV AIDS dari tahun ke tahun rata-rata meningkat. “Namun, peningkatan ini lebih kepada dampak perluasan layanan yang secara masif kita lakukan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Minggu, 7 Desember 2025.

Allin menambahkan, berdasarkan data kumulatif kasus baru dimulai saat dilakukan validasi dan pembaharuan sistem pelaporan HIV AIDS (SIHA) pada 2023 sampai dengan November 2025 berjumlah 2.349 kasus baru dan lama terdiri dari 1.714 kasus HIV dan 635 Kasus AIDS.

Diatara kasus tersebut yang sudah mendapatkan pegobatan standar 1.773 kasus atau sekitar 75  persen yang tersebar dibeberapa layanan pengobatan.

“Sedangkan berdasarkan usia masih didominasi usia produktif 25-49 tahun yaitu sebesar 1.779, usia 15-24 tahun dimana diantarnya adalah usia remaja ada 300 kasus,” tambahnya.

Menurutnya, selain itu juga terdapat 24 kasus adalah anak-anak. Tentunya dengan semakin banyak kasus yang ditemukan diharapkan semakin banyak juga yang bisa diatasi, yakni mendapatkan pengobatan dan dites viral load (VL) atau tes darah.

“Kasus HIV AIDS didominasi oleh laki-laki dengan persentase 82 persen dan perempuan 19 persen. Kasus HIV AIDS terbanyak berada pada usia produktif yaitu 25-49 tahun,” jelasnya.

Menurutnya, berdasarkan kelompok resiko penderita HIV AIDS didominasi oleh kelompok kunci (laki seks laki, waria, pekerja seks, pengguna napza suntik). “Selain itu ada juga dari kelompok rentan, yakni ibu hamil dan pasien tuberkulosis (TB) dan infeksi menular seksual (IMS),” katanya.

Wanita berkerudung tersebut mengungkapkan, di wilayahnya berdasarkan data kasus dari awal Januari hingga November 2025 terdapat 370 kasus HIV AIDS. Jumlah kasus tersebut terdiri dari beberapa kelompok beresiko, yakni pekerja seksual 12 kasus, laki seks laki 190 kasus, waria atau transgender 3 kasus.

“Kemudian pansun 6 kasus, pasien, tuberkulosis 53 kasus, pasien IMS 20 kasus, populasi umum 30 kasus, pelanggan pekerja seks 20 kasus, ibu hamil 12 kasus, calon pengantin 5 kasus dan lain-lain 19 kasus,” tuturnya.

Mantan Direktur RSU Kota Tangsel tersebut memastikan, melakukan upaya pencegahan dengan maksimal salah. Satunya adalah pengembangan layanan Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) HIV AIDS di Kota Tangsel.

Layanan tersebut antara lain 40 fasilitas pelayanan kesehatan yang terdiri dari 7 rumah sakit swasta, 3 rumah sakit pemerintah dan 30 UPTD Puskesmas. Selain itu Dinkes juga telah melakukan pelatihan pemeriksaan TCM VL di 6 layanan UPTD, 1 rumah sakit pemerintah.

Juga untuk menunjang penemuan kasus pada bayi ada sekitar 35 UPTD Puskesmas dan 3 RS pemerintah sebagai pengambil sample EID. “Yang terbaru saat ini sesuai dengan kebijakan pengendalian HIV AIDS  pemberian profilaksis atau PreP pada kelompok kunci HIV AIDS (laki seks laki, waria, pekerja seks, pengguna napza suntik) diiringi paket pencegahan lainnya prioritas diberikan pada kelompok ini,” tuturnya.

Allin menuturkan, berdasarkan hasil penelitian pemberian profilaksis dapat mencegah penularan lebih dari pada 90 persen, dan bisa mencapai 100 persen jika dikombinasikan dengan paket pencegahan lainnya.

Saat ini sudah ada 30 UPTD Puskesmas layanan pemberian profilaksis PreP, yang diakses saat ini 210 orang yang beresiko akses Prep. Upaya pengendalian dilakukan dengan menerapkan strategi promosi kesehatan, pencegahan (Prep), penemuan kasus, dan penanganan kasus, didukung berjalannya transformasi kesehatan, termasuk penguatan layanan primer, pencapaian cakupan kesehatan semesta, dan pelibatan masyarakat atau komunitas.

Allin mengaku, adanya perubahan kebijakan di Internasional maupun nasional menjadi sebuah tantangan untuk untuk bersama senantiasa tetap fokus memperkuat komitmen secara bersama sama dari seluruh lapisan masyarakat.

Komitmen tersebut adalah untuk menyukseskan penanggulangan HIV-AIDS yang ditandai dengan dengan tercapainya Three Zero, yaitu zero infeksi baru HIV, zero kematian terkait AIDS dan zero stigma diskriminasi.

“Maka sangatlah tepat jika tema hari AIDS sedunia tahun ini yang kita usung adalah “bersama hadapi perubahan, jaga keberlanjutan layanan HIV,” tutupnya. (*)

Pos terkait