TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes),. Benyamin Paulus Octavianus melakukan kunjungan ke Puskesmas Cibodasari, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Selasa, 11 November 2025.
Wamenkes Benyamin didampingi Kepala Dinas Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraini memastikan bagaimana penanganan penyakit Tuberkulosis di Provinsi Banten, khususnya di Kota Tangerang menjadi terbaik di seluruh Indonesia.
“Jadi kami dari Kemenkes ingin tahu caranya, bagaimana Banten ini koq bisa terbaik dalam penanganan kasus TBC. Ternyata yang dilakukan di Banten ada pemberian terapi pencegahan pasien TBC,” ungkap Benyamin, kepada wartawan, Selasa, 11 November 2025.
Usai melakukan peninjauan Wamenkes bersama Gubernur Banten, wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang bersama jajaran Dinas Kesehatan se-Provinsi Banten menggelar diskusi upaya capaian penanganan kasus Tuberkulosis di ruang Akhlakul Karimah, Puspemkot Tangerang.
“Di Banten ini ketika ada orang terkena penyakit TBC, anggota keluarga lainnya pun dilakukan skrining dan diberikan pengobatan pencegahan. Kinerjanya patut kita apresiasi. Di Indonesia sendiri rata-rata dibawah 10 persen. Nah di Banten sudah 52 persen. Maka kami kesini apa yang baik di Banten bisa dipakai untuk skala nasional,” kata Benyamin.
Benyamin mengatakan, penanganan pencegahan penyakit Tuberkulosis di Provinsi Banten akan diterapkan pada skala nasional. Sebab, Provinsi Banten menemukan kasus Tuberkulosis tertinggi se-Indonesia yaitu sudah mencapai 93 persen.
Benyamin memaparkan, penanganan kasus Tuberkulosis merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Oleh karenanya, Kementerian Kesehatan pada 2026 ditargetkan dapat melakukan percepatan capaian target dalam merealisasikan penanganan pencegahan penyakit TBC.
“Kita diminta pak Presiden Prabowo, 2026 nanti untuk seluruh Indonesia cari cara yang paling murah paling efektif nah kita lagi keliling Indonesia. Besok kita ke Jakarta, kemudian ke Provinsi Jawa Barat. Kita mencari semua kelebihan wilayah masing-masing untuk diimplementasikan untuk mencapai target,” ungkap Benyamin.
“Pemberantasan TBC merupakan program prioritas pak Presiden Prabowo. Jadi penemuan kasus yang paling tinggi adalah provinsi Banten, jadi yang terbaik, karena skriningnya luar biasa masif,” pungkasnya.
Sementara itu,, Gubernur Banten, Andra Soni menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepala daerah di tingkat kabupaten kota berserta jajaran Dinas Kesehatan yang telah bekerja keras dalam upaya penanganan kasus Tuberkulosis di Provinsi Banten.
“Akumulasinya, agregatnya ada di Provinsi Banten jadi saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada kepala daerah dan kepala dinas di provinsi Banten termasuk tenaga kesehatan di kabupaten kota atas kinerjanya dalam upaya menemukan dan mengobati pasien TB sampai sembuh,” ungkap Andra Soni.
Andra Soni menyampaikan, penemuan kasus Tuberkulosis di Banten tertinggi. Hal itu menunjukan keberhasilan kinerja tenaga kesehatan terutama wilayah Kota Tangerang dalam penanganan dan pengobatan serta pencegahan kasus TBC. Dengan begitu, Provinsi Banten menjadi salah satu daerah dengan capaian terbaik dalam penanganan TBC.
“Pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas pihak termasuk masyarakat dalam memutus penularan TBC. Namun demikian kita tetap terus mengkampanyekan pencegahan penularan kasus TBC tersebut melalui program kampanye TOSS TBC, Temukan, Obati Sampai Sembuh untuk dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
“Dan ini kita terus instruksikan untuk tetap dimasifkan lagi upaya-upaya untuk mencapai keberhasilan penanganan TB,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Atu Pramudji Hastuti menambahkan, pihaknya memiliki kader penanganan TBC di setiap desa/kelurahan. Mereka ujung tombak tim percepatan penanggulangan TBC Ayang bergerak dan melakukan jemput bola hingga ke tengah lingkungan masyarakat dalam upaya mendeteksi dini kasus Tuberkulosis tersebut. Sehingga temuan kasus Tuberkulosis di Provinsi Banten sudah mencapai 40 ribu kasus atau sekitar 90 persen,
“Kami punya program Desa/Kelurahan Siaga TB dengan kader masing-masing lima orang dan mereka sudah dilatih dalam penanganan pencegahan dan pengobatan TB. Nah Kota Tangerang temuan kasus paling tinggi. Artinya kinerjanya sangat optimal dalam penanganan dan pencegahan kasus TBC,” kata Ati saat ditemui.
“Dengan begitu Provinsi Banten sudah melebihi apa yang sudah ditargetkan oleh pemerintah pusat, tapi kami tidak cukup sampai batas 90 persen itu, bagaimana kami dapat melakukan skrining terhadap warga yang terindikasi TBC tetap melakukan pemeriksaan. Jadi capaiannya walaupun capaiannya sudah melebihi target nasional kami tetap terus berjuang menekannya,” sambungnya.
Selain itu, indikator lainnya, pihaknya mendukung daerah di Provinsi Banten berinovasi dalam melayani penemuan kasus secara aktif. Seperti di Kota Tangerang memiliki aplikasi Ransel TBC. Dalam fitur aplikasi tersebut masyarakat secara mandiri untuk bisa melakukan skrining deteksi dini. Kemudian, melalui aplikasi tersebut petugas kesehatan melalui kader desa/kelurahan Siaga TB melakukan jemput bola dalam upaya penanganan lebih lanjut.
“Kota Tangerang sendiri nama aplikasinya Ransel TBC, setiap daerah namanya lain-lain. Kami sengaja memang membebaskan pemberian nama sesuai budayanya masing-masing. Melalui aplikasi itu kita bisa melakukan jemput bola ke masyarakat. Dan akhirnya kita menemukan kasus sekian banyak,” ujar Ati.
Ati menyebut, penanganan pencegahan Tuberkulosis yang terpenting adalah komitmen dari berbagai pihak, mulai dari kepala daerah di tingkat kabupaten kota hingga jajaran ke bawahnya. Sebagaimana Gubernur Banten mewajibkan semua untuk turun bergerak.
Jadi semua harus bergerak tanpa memandang layanan fasilitas kesehatan ataupun rumah sakit swasta maupun pemerintah semua harus bergerak memberikan pelayanan penanganan TBC,” kata Ati. .
Selain itu, melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sekaligus skrining kesehatannya.
“Hasil dari CKG itu nanti ketahuan terindikasi atau tidaknya penyakit menular seperti TB atau lainnya. Untuk mencegah sakit diusia produktif agar mereka tetap dapat bekerja,” ujarnya.
Ari menambahkan, keberhasilan Provinsi Banten dalam penanganan dan menekan kasus Tuberkulosis, Kementerian Kesehatan bersama Provinsi Banten tengah menggodok regulasi guna pemberian intensif bagi tenaga kesehatan.
“Capaian target program prioritas pak Presiden ini luar biasa di Provinsi Banten. Jadi dengan perhatian, bukan hanya fiskal atau finansial, perhatian berbagai aspek lainnya juga diperlukan oleh mereka. Jadi regulasi ini sedang kita godok untuk mereka kedepan. Insya Allah kami perjuangkan,” pungkasnya.(*)











