Delapan Titik Wilayah Kramatwatu Dipenuhi Sampah Liar, Pemerintah Kecamatan Kebingungan Buang Sampah

Tumpukan sampah yang tidak kunjung dibuang ada di Alun-alun Kramatwatu, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Foto : Agunggumelar/Bantenekspres.co.id

KRAMATWATU,BANTENEKSPRES.CO.ID – Delapan titik wilayah Kecamatan Kramatwatu, dipenuhi sampah liar berserakan, yang mayoritas berada di jalan utama di Kabupaten Serang, salah satunya di depan Alun-alun Kecamatan Kramatwatu.

Tingginya volume sampah, membuat Pemerintah Kecamatan Kramatwatu sampai kebingungan harus buang kemana, karena Kabupaten Serang tidak punya TPSA dan kerjasama pembuangan sampah ke daerah lain dihentikan.

Bacaan Lainnya

Sehingga, sampah di lokasi tersebut mengalami penumpukan akibat kesulitan dalam mengelola dan membuang sampah dalam satu bulan terakhir.

Camat Kramatwatu Sri Rahayu Basukiwati mengaku, volume sampah di Kecamatan Kramatwatu setiap harinya cukup besar, yang membuat pihaknya kesulitan khususnya dalam pembuangan sampahnya.

Padahal Kecamatan Kramatwatu ini, diberikan kewenangan dalam mengelola sampahnya sendiri, namun dalam beberapa bulan terakhir ini mengalami kesulitan karena tidak bisa membuang ke TPA.

“Sekarang kami lagi kesulitan buang sampah, tadinya kita bisa buang ke Lebak Wangi namun, karena didemo masyarakatnya akhirnya tidak bisa buang lagi. Sedangkan, volume sampah setiap hari semakin bertambah banyak, kita sedang cari cara supaya bisa buang sampah,” katanya, Kamis 30 Oktober 2025.

Sri Rahayu mengatakan, kurang lebih ada delapan titik terdapat sampah liar yang mayoritas berada di jalan utama, dan setiap harinya volume sampah yang diproduksi bisa lebih dari enam truk.

Kebanyakan sampah yang diproduksi, berasal dari sampah rumah tangga, sampah pasar, dan sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat ke pinggir jalan.

“Setiap hari volume sampah di Kramatwatu bisa sampai enam truk, karena jumlah penduduk disini sangat banyak, kami saat ini kewalahan karena tidak ada tempat membuang sampah. Namun, kita terus berupaya sedikit-sedikit untuk bisa mengurangi sampah,” ujarnya.

Dikatakan Sri Rahayu, di Kecamatan Kramatwatu sudah terdapat beberapa bank sampah yang bisa mengelola sampah yang bernilai ekonomis, namun karena volume yang besar belum bisa mengurangi sampah secara optimal.

Meski begitu, sampah yang menumpuk khususnya dipinggir jalan utama perlahan sudah mulai diangkut, tidak mengganggu kenyamanan warga sekitar dan pengguna jalan.

“Kita ada TPS sementara, namun tidak bisa untuk menampung banyaknya sampah di Kramatwatu ini, kita sedikit-sedikit perlahan buang sampah ke TPS sementara kami. Sampah yang dikelola hanya yang bernilai ekonomis, kalau sampai lainnya harus dibuang ke TPSA,” ucapnya.

Kata Sri Rahayu, ada dua desa yang sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri yaitu, Desa Teluk Terate dan Desa Wanayasa, dengan cara membakar sampahnya memakai alat khusus.

“Mereka pakai dana desa beli alat pembakaran sampah, namun kapasitasnya kecil tidak sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan,” tuturnya. (*)

 

Pos terkait