Dapur MBG Cikeusal Masak 3.578 Porsi Tiap Hari Untuk 15 Sekolah

Karyawan terlihat sedang memasak untuk program MBG di dapur MBG, Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang. Foto : Dapur MBG/Bantenekspres.co.id

CIKEUSAL,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, dari Senin sampai Jumat, rutin memasak sebanyak 3.578 porsi untuk 15 sekolah.

Dapur MBG ini, menaungi kurang lebih tiga hingga empat desa dan untuk porsi makan yang dimasak sudah sesuai dengan jumlah siswa di 15 sekolah tersebut meliputi PAUD, SDN, TK, MI, SMP, dan SMA.

Bacaan Lainnya

Penanggungjawab Dapur SPPG atau MBG pada Bumdesma Cikeusal, Jamaludin mengatakan, program MBG diwilayahnya sudah dimulai sejak Kamis 21 Agustus kemarin, dengan melibatkan 15 sekolah dan jumlah muridnya ada 3.578.

Jumlah ini, belum selesai dengan yang ditargetkan pemerintah pusat yaitu 4.000 siswa untuk satu dapur MBG, maka pihaknya akan menjalin kerjasama lagi dengan sekolah lainnya.

“MBG sudah berjalan, kita baru 15 sekolah dengan jumlah siswanya 3.578 orang, masih tersisa 500 siswa lagi untuk mencapai target, kita akan jalin kerjasama lagi dengan sekolah lainnya. Alhamdulillah semuanya kebagian, kita berikan MBG setiap Senin sampai Jumat saja, kalau Sabtu dan Minggu libur,” katanya, Selasa 26 Agustus 2025.

Jamaludin mengatakan, satu porsi bernilai Rp10 ribu dengan menu yang berbeda-beda mulai dari ayam, ikan, telur, tahu tempe, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta susu yang hanya ada di Jumat saja.

Wadah yang dipakai MBG ini stainless, dan jadwal untuk mengantar makanan berbeda-beda, ada yang pukul 07.30 WIB sudah diantarkan, ada yang pukul 09.30 WIB, dan pukul 12.00 WIB, disesuaikan dengan jam pelajaran masing-masing sekolah.

“Menu MBG sesuai arahan ahli gizi ya, harus ada karbohidratnya, proteinnya, kalorinya, nabatinya, dan lain sebagainya, sudah terpenuhi. Kita antar MBG ini pakai kendaraan operasional kami, ada yang pukul 07.30 sudah diantarkan, bahkan ada yang pukul 12.00 diantar itu untuk anak SMA,” ujarnya.

Dikatakan Jamaludin, bahan baku yang didapat berasal dari warga sekitar yang memiliki usaha terkait, seperti ayam dibeli dari peternak lokal, lalu telur juga sama, ikan dari pembudidayanya, dan beras dibeli dari pemilik penggilingan padi.

Namun, untuk sayur-sayuran tidak dibeli dari warga sekitar melainkan di pasar, karena tidak ada di wilayahnya yang menanam sayuran seperti wortel, kol, seledri, dan lainnya.

“Terus terang saja, kalau sayuran kami belinya di pasar bukan warga lokal, karena tidak ada warga disini yang menanam sayuran yang kita butuhkan. Tapi, kalau bahan baku lainnya kaya ayam, telur, tahu tempe, ikan, dan beras, kita beli dari warga lokal yang memiliki usaha tersebut,” ucapnya.

Kata Jamaludin, sekitar Rp35 juta dalam lima hari bisa dihabiskannya untuk kebutuhan belanja yang akan masak, karena membutuhkan bahan baku dalam jumlah yang banyak.

Adapun jadwal kegiatan di dapur MBG, dimulai pukul 20.00 WIB karyawan sudah mulai masak sampai pukul 04.00 WIB, dan pukul 07.30 WIB diantarkan ke sekolah.

Kemudian, pukul 12.00 WIB stainless bekas makan sudah diambil lagi dan pukul 13.00 WIB tim cuci mulai bekerja, sampai pukul 15.00 WIB tim yang bertugas menyiapkan bahan baku mulai bekerja.

“Jadi, karyawan di dapur MBG kami ada banyak yang dibagi ke beberapa tim, ada yang masak, lalu nyuci stainless, menyiapkan bahan baku, antar makanannya dan lainnya. Semua karyawan ini, tentu saja mendapatkan gaji yang dilakukan oleh tim akunting dari pemerintah pusat,” tuturnya.

Jamaludin mengatakan, karyawan yang bekerja di dapur MBG nya berjumlah 45 orang yang berasal dari warga sekitar belum punya pekerjaan, direkrut untuk berpartisipasi bekerja bersama.

Mereka semua mendapatkan gaji berbeda-beda, untuk tukang masak, cuci, dan antar dapat Rp100 ribu perhari, kalau kepala dapur yang tugasnya menyiapkan serta membeli bahan baku dapat Rp130 ribu perhari.

“Kalau ditotalkan sebulan, mereka bisa dapat gaji Rp2,5 juta hingga Rp3 juta, semua karyawan ini sudah mendapatkan pelatihan dari pemerintah pusat. Saya harap, program MBG ini berjalan terus karena dampak positifnya luar biasa banyak, bisa mengentaskan pengangguran, ekonomi warga bisa meningkat, anak bisa sehat dan lainnya,” katanya. (*)

Reporter : Agung Gumelar

 

 

Pos terkait