CILEDUG, BANTENEKSPRES.CO.ID — Penilaian Lomba Sekolah Literasi tingkat Kota Tangerang jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2026 telah rampung dilakukan tim penilai terdiri dari Dinas Perpustakaan, dan Aset Daerah (DPAD), Tokoh Pendidikan, Akademisi, dan
Perwakilan Tim Penilai Sekolah Literasi, Ade Heryana mengatakan, ajang lomba Sekolah Literasi tingkat Kota Tangerang ini bertujuan untuk mendorong budaya membaca sekaligus memasyarakatkan kebiasaan literasi yang berdampak nyata bagi para siswa di lingkungan sekolah.
Ia menjelaskan, di tahun ini terdapat 12 sekolah peserta yang bersaing dalam ajang tersebut. Para peserta ini merupakan perwakilan terbaik yang disaring dari empat Kelompok Kerja Wilayah (Korwil), dengan masing-masing korwil mengirimkan tiga sekolah.
“Kali ini kami mendapat tugas dari wali kota melalui Dinas Pendidikan dalam rangka melaksanakan agenda rutin tahunan. Ini penilaian Sekolah Literat tingkat Kota Tangerang jenjang SMP,” ujar Ade Heryana saat ditemui di sela-sela kegiatan peninjauan dan penilaian di SMPN 25 Kota Tangerang, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ade menyebut, terdapat 34 Indikator dokumen yang menjadi penilaian dalam ajang lomba Sekolah Literasi ini, diantaraanya sarana dan prasarana serta dokumen pembiasaan budaya literasi di sekolah yang dilombakan.
Dikatakannya, sebagai bagian dari tahap penentuan pemenang, tim penilai melaksanakan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah untuk memastikan kesesuaian antara dokumen administratif dan fakta di lapangan.
“Hari ini hari kedua kami berkunjung ke beberapa sekolah untuk melakukan penilaian yang diawali dengan memverifikasi sinkronisasi dan memverifikasi dokumen-dokumen dengan kenyataan di lapangan,” terangnya.
Ade menambahkan, dari total 12 sekolah yang berpartisipasi, tim penilai melakukan verifikasi menyeluruh terhadap 34 indikator dokumen tersebut. Setelah kunjungan verifikasi faktual, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan rapat pleno untuk menentukan sekolah-sekolah terbaik yang benar-benar menerapkan kegiatan literasi secara nyata dan membumi.
Ia menyampaikan, dalam peninjauannya, Ade mengapresiasi sejumlah sekolah yang dinilai telah menjadikan literasi sebagai kebiasaan sehari-hari (habit), bukan sekadar program seremonial lomba. Beberapa sekolah tersebut sukses mengintegrasikan praktik baik literasi berkat dukungan penuh dari kepala sekolah dan seluruh warga sekolah.
“Dari total sekolah yang dilombakan, ada beberapa yang memang faktanya sudah menjadi habit, sudah menjadi praktik baik setiap hari, setiap minggu, bukan hanya literasi baca, tetapi dalam segi aspek yang lainnya, pembiasaan-pembiasaan yang memang disupport oleh kepala sekolah dan warga sekolah yang lain,” papar Ade.
Ia berharap, lomba Sekolah Literasi ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan formal untuk menggugurkan kewajiban. Namun lebih dari itu, Ade juga menekankan pentingnya esensi dari gerakan literasi agar dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami berharap bukan hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban dalam mengikuti Lomba Sekolah Literasi, tetapi untuk memasyarakatkan budaya literasi itu sendiri di hampir setiap sekolah yang berdampak baik untuk masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.(*)










