LARANGAN, BANTENEKSPRES.CO.ID – SDN Kereo 7 yang berlokasi di Jalan Hos Cokrominoto | Kecamatan Larangan, menghadirkan nuansa berbeda dalam pelaksanaan upacara bendera pada Senin, 5 Oktober 2026. Kali ini kegiatan rutin setiap Senin itu menggunakan alat musik tradisional angklung sebagai pengiring lagu-lagu nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah mengenalkan sekaligus melestarikan budaya Indonesia kepada para siswanya.
Kepala SDN Kereo 7, Nursiah mengatakan, penggunaan angklung dalam upacara merupakan bagian dari visi dan misi sekolah dalam mewujudkan siswanya mencintai budaya lokal.
“Tujuan utamanya adalah untuk melestarikan kebudayaan daerah melalui alat musik tradisional angklung. Ini merupakan perwujudan nyata dari visi dan misi sekolah kami dalam membentuk siswa-siswi yang berkarakter serta memiliki rasa cinta terhadap budaya lokal,” ujar Nursiah.
Menurut dia, keberadaan angklung dalam upacara juga diharapkan menjadi keunikan tersendiri bagi SDN Kereo 7. Para siswa tidak hanya mengikuti rangkaian upacara, tetapi turut terlibat dalam memainkan alat musik tradisional secara bersama-sama.
“Kami ingin menjadikan alunan angklung ini sebagai keunikan dan ciri khas yang membanggakan bagi SDN Kereo 7,” ujarnya.
Nursiah menjelaskan, penggunaan angklung dalam upacara sebenarnya telah direncanakan sejak awal tahun ajaran baru pada Juli lalu. Namun, pelaksanaannya membutuhkan persiapan, baik dari sisi kelengkapan alat maupun kemampuan siswa dalam memainkan angklung.
Setelah melalui proses persiapan dan latihan secara bertahap, program tersebut akhirnya dapat direalisasikan pada 5 Oktober. Momentum tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila serta HUT TNI.
“Rencana ini sebenarnya sudah dirancang sejak awal tahun ajaran baru pada bulan Juli. Namun, karena membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari kelengkapan peralatan hingga kesiapan dan kemahiran para siswa, program ini akhirnya dapat terealisasi pada tanggal 5 Oktober,” jelasnya.
Untuk mempersiapkan penampilan tersebut, kata Nursiah, siswa mendapatkan pembelajaran angklung melalui mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP). Latihan kemudian diperdalam melalui kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan setiap Rabu sore.
Dalam latihan, siswa diperkenalkan dengan nada dasar, teknik memegang dan memainkan angklung hingga memainkan sejumlah lagu nasional. Latihan dilakukan secara konsisten agar siswa mampu tampil kompak saat mengiringi upacara.
Ia menilai, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan keterampilan bermusik kepada siswa. Lebih dari itu, bermain angklung secara berkelompok turut menjadi sarana pembentukan karakter karena setiap siswa memiliki peran yang saling melengkapi.
“Karena angklung tidak bisa dimainkan sendiri, siswa belajar mengikis sikap egois, saling membantu, dan membangun jiwa kebersamaan. Harmoni alunan musik yang indah hanya bisa tercipta jika mereka bermain secara kompak dan saling melengkapi,” tuturnya.
Ia berharap, program tersebut dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari kegiatan sekolah. Melalui angklung, siswa diharapkan semakin mengenal kekayaan budaya Indonesia dan memiliki kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa.
“Semoga program ini memicu ketertarikan mereka untuk mempelajari budaya lain, sekaligus mempererat rasa kebersamaan, kerja sama, dan kasih sayang antar sesama teman. Kami ingin melahirkan generasi yang cerdas sekaligus bangga akan akar budayanya,” pungkasnya. (*)










