SINDANGJAYA,BANTENEKSPRES.CO.ID – SDN Wanakerta IV, Kecamatan Sindang Jaya, terus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada para siswanya melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya dengan mengajak siswa mengolah sampah plastik menjadi ecobrick, yakni botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik bekas sehingga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna, seperti hiasan, kursi, meja, hingga pot tanaman.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang tidak hanya mengasah kreativitas siswa, tetapi juga membangun kesadaran sejak dini akan pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman sampah plastik yang sulit terurai.
Melalui program ini, para siswa diajak mengumpulkan sampah plastik dari rumah maupun lingkungan sekitar. Sampah kemudian dipilah, dibersihkan, dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam botol plastik hingga padat untuk dijadikan ecobrick yang siap dimanfaatkan.
Kepala SDN Wanakerta IV, Madrohim, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendidikan karakter yang dipadukan dengan pembelajaran peduli lingkungan. Menurutnya, kebiasaan baik harus mulai ditanamkan sejak usia sekolah agar menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah plastik bukan hanya limbah yang harus dibuang, tetapi juga dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui ecobrick, mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama,” ujar Madrohim kepada Bantenekspres.co.id, Rabu 22 Juli 2026.
Ia menjelaskan, persoalan sampah plastik saat ini menjadi tantangan besar karena volumenya terus meningkat. Oleh karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab memberikan edukasi kepada siswa agar mampu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus memanfaatkan sampah yang sudah ada.
“Anak-anak kami ajarkan untuk memilah sampah, tidak membuang sampah sembarangan, dan memanfaatkan kembali sampah plastik menjadi produk yang berguna. Harapannya, kebiasaan ini terbawa hingga mereka berada di rumah maupun di lingkungan masyarakat,” katanya.

Menurut Madrohim, kegiatan tersebut juga menjadi media pembelajaran yang menyenangkan karena siswa dapat berkreasi sesuai imajinasi mereka. Selain belajar mengenai lingkungan, siswa juga dilatih bekerja sama, teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap hasil karya yang dibuat.
“Ecobrick bukan hanya menghasilkan sebuah karya, tetapi juga mengajarkan proses. Anak-anak belajar bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai manfaat jika diolah dengan baik. Nilai-nilai seperti kreativitas, kerja keras, dan kepedulian lingkungan tumbuh melalui kegiatan ini,” ungkapnya.
Ia berharap, siswa tidak berhenti menerapkan kebiasaan tersebut di lingkungan sekolah saja. Menurutnya, edukasi yang diterima di sekolah harus mampu diterapkan di rumah bersama keluarga.
“Kami ingin siswa menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka bisa mengajak orang tua, saudara, dan tetangga untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan serta mulai mengolahnya menjadi ecobrick. Jika dilakukan secara bersama-sama, tentu akan membantu mengurangi penumpukan sampah plastik,” tuturnya.
Madrohim menambahkan, sekolah akan terus mengembangkan berbagai program berbasis lingkungan sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian alam.
“Kami berkomitmen menjadikan sekolah sebagai tempat yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter cinta lingkungan. Semoga melalui kegiatan sederhana ini, siswa terbiasa menjaga kebersihan dan mampu menjadi pelopor gerakan peduli lingkungan di mana pun mereka berada,”tutupnya. (*)












