Cegah Cyberbullying, Relawan TIK Edukasi Etika Media Sosial di SMPN 7 Pasar Kemis

Cegah perundungan siber, Relawan TIK edukasi ratusan murid SMPN 7 Pasarkemis tentang sopan santun bermedia sosial dan pentingnya menjaga privasi digital. Foto: Relawan TIK Banten

PASARKEMIS,BANTENEKSPRES.CO.ID – Memasuki tahun pelajaran baru 2026/2027, SMPN 7 Pasar Kemis berkomitmen mencetak generasi yang cerdas dan beretika di dunia maya.

Berkolaborasi dengan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Banten, sekolah menggelar seminar interaktif bertajuk ‘Sopan dan Santun Bermedia Sosial’ dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Studi (MPLS), kemarin.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang diikuti oleh 202 murid baru ini menghadirkan Ketua Relawan TIK Provinsi Banten sekaligus Trainer Literasi Digital Nasional Ahmad Taufiq Jamaludin, serta Kepala SMPN 7 Pasarkemis Suharti sebagai keynote speaker.

Ahmad Taufiq Jamaludin yang akrab disapa Kang Taufiq menjelaskan, berselancar di internet memerlukan panduan berupa empat pilar literasi digital, yaitu Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital dan Etika Digital (CABE). Untuk menciptakan ruang digital yang sopan, pilar etika menjadi kunci utama.

“Pilar etika digital mencakup tiga aspek penting yang tidak boleh dilanggar, yakni privasi, akurasi dan properti. Kita harus menjaga privasi diri dan orang lain, memastikan informasi yang dibagikan akurat bukan hoaks, serta menghormati hak kepemilikan. Jika konten dibuat menggunakan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI), wajib menyertakan disclaimer” jelas Taufiq dalam keterangannya.

Selain mewaspadai fenomena perundungan siber (cyberbullying), Taufiq juga membagikan lima etika penting saat menghubungi guru melalui pesan singkat seperti WhatsApp.

Yaitu, merhatikan waktu yang tepat (hindari malam hari atau hari libur). Sampaikan salam dan identitas diri yang jelas. Tuliskan tujuan dengan jelas dan santun. Gunakan bahasa yang sopan dan akhiri dengan ucapan terima kasih.

Kepala SMPN 7 Pasarkemis Suharti menegaskan pentingnya menjaga lisan dan ketikan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial.

Ia berharap tidak ada lagi siswa yang menggunakan bahasa kasar, umpatan atau konten tidak senonoh yang bisa berujung pada masalah hukum.

“Ibu ingin kita semua menggunakan hati dan pikiran yang sehat. Jangan sampai ada murid yang membuat status kasar di WhatsApp hingga menyinggung temannya dan harus berurusan dengan kepolisian. Mari kita bangun SDM yang baik menuju sekolah yang cakap digital,” ujar Suharti.

Suharti juga menyampaikan apresiasinya kepada Relawan TIK yang telah konsisten mengedukasi warga sekolah mengenai literasi digital secara sukarela.

Dalam sesi simulasi, salah satu murid baru bernama Arkan berhasil mempraktikkan cara mengirim pesan WhatsApp yang sopan kepada guru dan langsung mendapatkan apresiasi serta hadiah dari narasumber.

Melalui metode pelatihan yang interaktif, penuh kuis dan diskusi, Relawan TIK berharap para siswa baru SMPN 7 Pasar Kemis dapat mengingat dan menerapkan etika digital ini dalam kehidupan sehari-hari. (*)

 

 

 

Pos terkait