CIPUTAT, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tangsel menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tangsel, jumlah kasus DBD pada 2024 tercatat sebanyak 754 kasus, kemudian menurun menjadi 648 kasus pada 2025.
Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 209 kasus. Data tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel yang sekaligus Ketua Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Kota Tangsel Bambang Noertjaho saat peringatan Asian Dengue Day (ADD) Kota Tangsel 2026 di Aula Blandingan, Balai Kota, Kamis, 25 Juni 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 230 peserta yang terdiri dari perwakilan kecamatan, kelurahan, sekolah, perusahaan, kader kesehatan, serta berbagai pihak yang terlibat dalam upaya pengendalian DBD di Kota Tangsel.
Bambang mengatakan, keberhasilan menurunkan kasus DBD tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak dalam menjalankan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.
“Capaian pelaksanaan program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) di setiap kecamatan masih bervariasi. Berdasarkan hasil pemantauan, Kecamatan Pamulang berhasil mencapai cakupan 100 persen. Sementara kecamatan lainnya masih perlu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program tersebut,” ujarnya, Kamis, 25 Juni 2026.
Bambang menambahkan, selain pemantauan rutin, Dinas Kesehatan juga melaksanakan silent survey atau pemeriksaan mendadak terhadap wilayah yang telah memperoleh sertifikasi bebas jentik. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan upaya pemberantasan sarang nyamuk tetap berjalan secara konsisten.
Berdasarkan hasil silent survey tahun 2025, sejumlah wilayah mencatat angka bebas jentik (ABJ) yang cukup tinggi. Standar nasional ABJ sendiri ditetapkan minimal 97 persen. Meski beberapa wilayah telah menunjukkan hasil yang baik, pemerintah menegaskan bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk tidak boleh berhenti.
“Pengawasan dan pemeriksaan jentik harus terus dilakukan secara berkelanjutan mulai dari tingkat rumah tangga, lingkungan RT/RW, kelurahan, puskesmas hingga kecamatan,” tambahnya.
Melalui peringatan Asian Dengue Day, Pemkot Tangsel berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan 3M Plus semakin meningkat sehingga target nol kematian akibat dengue dapat terwujud.
“Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk aktif menjadi jumantik di lingkungan masing-masing guna mencegah berkembangnya nyamuk penyebab DBD dan menjaga Kota Tangsel tetap sehat serta bebas dari ancaman dengue,” tutupnya.
Sementara itu, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Prima Yosephine mengatakan, DBD hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia bahkan dunia. Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus dengue tertinggi di kawasan Asia sehingga diperlukan upaya bersama untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
“Dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Indonesia bahkan termasuk yang tertinggi di Asia. Karena itu seluruh pihak harus bersama-sama berjuang agar penyakit ini dapat dikendalikan,” ujarnya.
Prima menambahkan, berdasarkan data nasional, pada 2025 tercatat sekitar 169 ribu kasus dengue dengan lebih dari 600 kasus kematian. Sementara hingga awal Juni 2026, jumlah kasus mencapai sekitar 39 ribu dengan 105 kematian.
Meski demikian, tren kasus secara nasional maupun di Kota Tangsel menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk keberhasilan pengendalian vektor dan kondisi iklim yang mendukung.
Menurutnya, pengendalian dengue tidak dapat hanya mengandalkan pelayanan kesehatan, tetapi harus dimulai dari lingkungan dan perubahan perilaku masyarakat melalui penerapan Gerakan 3M Plus secara berkelanjutan.
Ia menilai Kota Tangsel menjadi salah satu daerah pelopor dalam pelaksanaan Gerakan 3M Plus yang melibatkan masyarakat secara aktif melalui program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J).
“Gerakan 3M Plus di Kota Tangsel merupakan salah satu pionir. Program ini sangat baik karena mampu membangun budaya masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan dan pencegahan sarang nyamuk secara mandiri,” tambahnya.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut layak menjadi contoh bagi daerah lain di Provinsi Banten maupun kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Selain menekan angka kasus, upaya yang dilakukan Pemkot Tangsel juga dinilai berhasil menurunkan angka kematian akibat DBD. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Tangsel berhasil mempertahankan nol kematian akibat dengue.
“Ini pencapaian yang luar biasa. Dari data yang kami lihat, Kota Tangsel mampu mempertahankan zero death atau nol kematian akibat dengue sejak beberapa tahun terakhir,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala DBD. Warga yang mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, mual, atau gejala lain yang mengarah pada infeksi dengue diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Jangan menunggu terlalu lama. Jika demam tinggi tidak turun dalam dua hari, segera datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan lebih cepat,” tegasnya.
Prima mengaku, keberhasilan pengendalian dengue tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, melainkan memerlukan kolaborasi seluruh pihak mulai dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga warga.
“Kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Keberhasilan Tangsel menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengendalikan penyakit berbasis lingkungan seperti dengue,” tuturnya.
Selain pengendalian lingkungan, Kemenkes juga mendorong pemanfaatan vaksin dengue sebagai salah satu upaya perlindungan tambahan. Namun karena vaksin tersebut belum masuk dalam program imunisasi nasional, masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi diharapkan dapat memanfaatkan vaksinasi secara mandiri.
“Kita harus mengendalikan vektor, menjaga lingkungan, meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan memanfaatkan vaksinasi sebagai perlindungan tambahan. Semua ini harus berjalan bersama agar kasus dengue terus menurun,” tutunya.
Ditempat yang sama, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, keberhasilan Kota Tangsel menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga mencapai nol kematian dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari konsistensi pelaksanaan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) yang telah berjalan sejak 2016.
Pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan petugas kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat sebagai pemantau jentik di lingkungan masing-masing.
“Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik ini sudah berjalan sejak 2016. Sampai sekarang masih menjadi gerakan bersama yang harus terus kita jaga dan kembangkan,” ujarnya.
Benyamin menambahkan, hingga pertengahan 2026 jumlah kasus DBD di Kota Tangsel tercatat sebanyak 209 kasus. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 648 kasus.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ancaman DBD tetap perlu diwaspadai karena nyamuk penyebab penyakit tersebut dapat berkembang biak di berbagai tempat yang sering kali luput dari perhatian masyarakat.
“Jentik nyamuk itu justru banyak ditemukan di tempat-tempat air bersih, seperti bak mandi, tempat penampungan air dispenser, wadah minum burung, atau botol bekas yang menampung air hujan. Bukan hanya di selokan yang kotor,” tambahnya.
Benyamin meminta masyarakat
untuk aktif melakukan pemeriksaan jentik secara rutin di rumah masing-masing dan menerapkan langkah pencegahan melalui Gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurutnya, setiap anggota keluarga harus memiliki kesadaran menjadi jumantik mandiri. Tidak hanya kader kesehatan, tetapi seluruh masyarakat harus ikut berperan dalam memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar.
“Semua bisa menjadi jumantik. Ibu rumah tangga, anak-anak, satpam, sopir, hingga pegawai kantor. Yang penting ada kepedulian untuk memeriksa dan membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” jelasnya.
Benyamin mengungkapkan, saat ini terdapat 754 RW di Kota Tangsel yang menjadi sasaran pelaksanaan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. Pemerintah juga terus melakukan sertifikasi wilayah bebas jentik sebagai bentuk evaluasi dan motivasi bagi masyarakat.
Meski sejumlah wilayah telah memperoleh sertifikat bebas jentik, pengawasan tetap dilakukan melalui survei berkala. Langkah ini penting karena nyamuk dapat berpindah dari wilayah lain dan kembali menimbulkan risiko penularan.
“Yang terpenting bukan hanya menurunkan kasus, tetapi bagaimana kita mempertahankan nol kematian akibat DBD. Alhamdulillah sejak beberapa tahun terakhir kita berhasil menjaga angka kematian tetap nol,” ungkapnya.
Benyamin berharap semangat gotong royong yang telah dibangun melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dapat terus diperkuat sehingga Kota Tangsel mampu mempertahankan prestasi sebagai daerah dengan pengendalian DBD yang baik.
“Kalau semua masyarakat bergerak bersama, saya optimistis kasus DBD bisa terus ditekan dan lingkungan kita menjadi lebih sehat,” tuturnya.
Menurut Benyamin, gerakan pengendalian DBD di Tangsel telah dilakukan secara sistematis sejak 2016 dan berawal dari inisiatif masyarakat melalui pembentukan kelompok Guru Pemantau Jentik (Jumantik) di wilayah Kecamatan Pamulang.
“Gerakan ini dimulai dari inisiatif masyarakat sendiri pada 2016 di Pamulang Barat dan Pamulang Timur melalui pembentukan Guru Pemantau Jentik. Dari situlah kemudian berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, upaya yang dilakukan secara berkelanjutan tersebut membuahkan hasil positif. Angka kasus DBD di Kota Tangsel terus menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun. Meski penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, dampaknya dapat ditekan melalui berbagai langkah pencegahan.
“Kalau kasusnya mungkin tidak bisa nol karena nyamuk ada di mana-mana. Tetapi yang bisa kita capai adalah menekan angka kematian akibat DBD hingga nol,” katanya.
Benyamin mengungkapkan, sejak 2024 hingga pertengahan 2026, Kota Tangsel berhasil mempertahankan nol kematian akibat DBD. Capaian tersebut diraih melalui berbagai intervensi yang dilakukan secara terpadu mulai dari edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap gejala DBD.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Pemkot Tangsel terus menggalakkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Program tersebut mendorong setiap keluarga untuk aktif memeriksa dan membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Jentik nyamuk Aedes aegypti biasanya berkembang di genangan air bersih seperti bak mandi, tempat penampungan air di bawah dispenser, wadah air di belakang kulkas, maupun tempat-tempat lainnya yang sering luput dari perhatian,” tutupnya. (*)










