Jejak Cahaya di Cilongok, Menelusuri Estafet Spiritual Haul Syekh Abdul Qadir Al Jaelani

Cahaya menara yang menembus gelap langit di atas Masjid Al Istiqlaliyyah di Kampung Cilongok, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Foto: Zakky Adnan/bantenekspres.co.id

PASARKEMIS,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di sebuah sudut Kabupaten Tangerang, tepatnya di Kampung Cilongok, Desa Sukamantri, gema zikir rutin membelah langit, dihadiri para jamaah yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Namun, siapa sangka, kemegahan spiritual ini bermula dari sebuah ‘titipan’ yang melintasi jarak dan waktu. Sebuah estafet amanah yang disebut-sebut melampaui nalar manusia.

Bacaan Lainnya

Sejarah Haul Sultanul Aulia Syekh Abdul Qadir Al Jaelani di wilayah ini tidak tumbuh begitu saja.

Menurut penuturan H. Mashuri, salah satu tokoh masyarakat setempat sekaligus koordinator kegiatan, haul ini adalah sebuah ‘titipan’ suci.

Dahulu, pusat kegiatan ini berada di Anyer, di bawah asuhan Buya Umar.

Saat sang ulama sepuh itu mendekati akhir hayatnya, sebuah isyarat batin menuntunnya untuk memindahkan amanah tersebut ke daerah Tanjakan Rajeg, kepada Kiai Dahlan.

“Itu ada petunjuk di luar nalar kita. Karena ini haulnya wali qutub, rajanya para wali, maka perpindahannya pun bukan sembarangan,” ujar H. Mashuri saat ditemui wartawan di kediamannya, semalam.

Sebelum menetap di Pondok Pesantren Al Istiqlaliyyah, haul ini sempat singgah di tangan Kiai Arsyad, seorang ahli thariqah (tarekat) asal Cisereh yang menetap di Kampung Gelam. H. Mashuri mengenang masa itu sebagai era kesederhanaan.

“Dulu saya ikut hadir, belum ramai seperti sekarang. Kalau sekarang orang bawa botol plastik untuk minta air barokah, dulu orang bawa kendi,” kenangnya.

Saat itu, Cilongok masih berupa kampung sunyi dengan akses jalan yang rusak parah. Jangankan malam hari, sore hari orang segan melintas karena sepi dan senyap juga.

Estafet pun berlanjut. Dari Kiai Arsyad, amanah itu berlabuh ke tangan Abah Haji Dimyati (Abah Sepuh).

Di tangan beliau, tradisi ini mulai berakar kuat di Cilongok, meski jamaah masih terbatas pada warga sekitar dan murid-murid terdekat.

 

Loncatan besar terjadi saat kepemimpinan diteruskan oleh putra beliau, Abuya Uci Turtusi, mulai 2001.

 

Di bawah asuhan Abuya Uci selama kurang lebih 20 tahun, Haul di Cilongok bertransformasi menjadi fenomena spiritual global.

 

Dukungan teknologi informasi dan karisma Abuya Uci membuat ribuan, bahkan puluhan ribu umat tumpah ruah.

 

Pemerintah yang dulunya ‘biasa saja’, mulai memberikan dukungan penuh.

 

Ratusan personel TNI dan Polri dikerahkan untuk menjaga keamanan, fasilitas kesehatan pun disiagakan penuh.

 

Namun, bukan hanya soal spiritualitas, haul ini membawa berkah nyata bagi ‘piring nasi’ warga.

 

Ini bukan matematika manusia lagi. “Ada pedagang uduk yang jualan satu hari saat haul ataupun pengajian, hasilnya cukup untuk makan satu minggu ke depan,” seloroh H. Mashuri dengan sedikit tawa.

 

Wafatnya Abuya Uci sempat menyisakan tanya. Ke mana larinya Haul ini? Keraguan itu terjawab ketika amanah jatuh ke tangan Abuya Entoh, putra kedelapan Abah Sepuh.

 

Meski bukan putra tertua, penunjukan Abuya Entoh diyakini sebagai rahasia Allah yang harus dijaga.

 

Kini, di bawah kepemimpinan Abuya Entoh, kekhawatiran bahwa haul akan sepi sepeninggal Abuya Uci justru terpatahkan.

 

Jamaah justru semakin membeludak, membuktikan bahwa daya tarik Cilongok bukan sekadar figur, melainkan karomah sosok Syekh Abdul Qadir Al Jaelani.

 

Harapan bagi masyarakat Cilongok, haul ini adalah urat nadi. Harapannya hanya satu, agar tradisi ini tetap tegak berdiri di tanah Cilongok.

 

Bukan hanya soal ekonomi, tapi tentang menjaga kedekatan hati kepada Allah (Taqarrub) dan kecintaan kepada para wali (Mahabbah).

 

Di tengah riuhnya dunia modern, Cilongok tetap menjadi oase bagi mereka yang mencari ketenangan dan syafaat, menjaga warisan cahaya yang dulu dibawa dengan sebuah kendi. (*)

 

Reporter: Zakky Adnan

Pos terkait