RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah gempuran tren game online dan media sosial yang menyita waktu generasi muda, sebuah pemandangan berbeda terlihat di Kampung Tegal Jungkel, Desa Tanjakan.
Sejumlah anak-anak dari berbagai usia justru antusias memadati area jalan pemukiman untuk berlatih bela diri tradisional, Pencak Silat.
Dalam sebuah video yang diterima wartawan, terlihat anak-anak laki-laki dan perempuan dengan penuh semangat mengikuti instruksi pelatih.
Mereka berbaris rapi di depan rumah-rumah warga, mempraktikkan berbagai jurus dasar dengan gerakan yang kompak dan bertenaga.
Perekam video yang juga Wakil Ketua Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Inonesia (TTKKBI) Kecamatan Rajeg Abdul Hadi mengungkapkan kebanggaannya atas rutinitas positif ini.
Ia menyebutkan, kegiatan ini merupakan cara efektif untuk menjauhkan anak-anak dari ketergantungan pada handphone (HP).
“Anak-anak Kampung Tegal Jungkel, Desa Tanjakan. Pagi, siang, malam, tuh enggak ada yang main HP. Ini perlu dicontoh,” ujar Hadi, dengan logat khas setempat, Kamis, 25 Desember 2025.
Fenomena ini menarik perhatian karena melibatkan anak-anak dari usia yang sangat dini. Bahkan, balita pun terlihat ikut serta meniru gerakan kakak-kakaknya di barisan belakang, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan dalam melestarikan budaya.
Pencak silat di Desa Tanjakan bukan sekadar olahraga fisik, melainkan media pembentukan karakter. Dengan latihan rutin, anak-anak diajarkan kedisiplinan, kemandirian, dan rasa kebersamaan.
“Semuanya di sini senang belajar silat. Anak-anak kecil semuanya semangat,” tambah Hadi, sambil menunjukkan video barisan anak-anak yang sedang melakukan kuda-kuda dan pukulan.
Kegiatan positif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam memberikan wadah bagi anak-anak untuk berkembang di luar dunia digital.
Dukungan orang tua dan lingkungan sekitar menjadi kunci utama mengapa latihan silat ini terus eksis dan diminati oleh generasi Z di kampung tersebut.
Bagi warga Desa Tanjakan, suara teriakan semangat dan derap langkah anak-anak saat berlatih silat kini telah menjadi musik malam yang membawa harapan akan lestarinya budaya bangsa di tangan generasi penerus. (*)










