Imbas Keracunan MBG, Pemkab Serang Bakal Bentuk Satgas MBG

Kepala Dinkes Kabupaten Serang Rahmat Fitriadi saat diwawancarai wartawan di depan gedung DPRD Kabupaten Serang, Kamis 4 September 2025. Foto : Agunggumelar/Bantenekspres.co.id

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, bakal membentuk Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal itu dilakukan, menyusul adanya puluhan siswa SMPN 1 Kramatwatu yang mengalami keracunan, setelah memakan MBG pada Selasa 2 September 2025.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Rahmat Fitriadi mengatakan, investigasi ke SMPN 1 Kramatwatu sudah dilakukannya yang hasilnya, terdapat salah satu dari menu MBG itu ternyata sudah tidak layak dikonsumsi.

Sehingga, menyebabkan puluhan siswa mengalami masalah pencernaan seperti, muntah, mual, pusing, hingga diare, namun semuanya telah diberikan pengobatan.

“Kemarin kita sudah melakukan investigasi, ada menu MBG yang diduga tak layak dikonsumsi, kita ambil untuk diperiksa ke laboratorium dan nanti hasilnya akan kita sampaikan. Para siswa alami gejala ringan, dari mual, muntah, pusing, dan diare, alhamdulillah sudah tertangani dan ada yang sudah kembali bersekolah,” katanya kepada wartawan di depan gedung DPRD Kabupaten Serang, Kamis 4 September 2025.

Rahmat mengatakan, sebagai langkah antisipasi akan dibentuk Satgas MBG, supaya nanti menu makanan yang akan dikonsumsi siswa dapat diawasi agar kejadian serupa tak terulang kembali.

Pengawasan yang dilakukan nantinya secara berjenjang, dari mulai pembelian bahan bakunya, cara masaknya, tempat makanannya, hingga distribusi ke sekolah.

“Kita sedang mempersiapkan untuk pembentukan Satgas MBG, sebagai langkah mitigasi kedepannya agar tidak terulang kembali. Semua prosesnya kita awasi, dari mulai beli bahan baku, cara masaknya, sampai pendistribusian ke sekolah kita awasi,” ujarnya.

Rahmat menghimbau, kepada SPPG atau dapur MBG di wilayah lainnya untuk lebih teliti dalam memilih bahan bakunya, rutin mengecek kondisi kebersihan dapurnya.

Kemudian, ketika hendak didistribusikan ke sekolah harus dilakukan pengecekan kembali terhadap makanannya, dikhawatirkan ada yang sudah tidak layak dikonsumsi lagi.

“Tentunya dari segi kebersihan harus dicek lagi, dari bahan bakunya yang akan diambil dipilih secara teliti, dan layak dikonsumsi. Lalu dari cara masaknya juga, harus diperhatikan jangan sampai ada kesalahan, karena ini menyangkut ke anak-anak yang memakannya,” ucapnya. (*)

 

 

 

Pos terkait