PASARKEMIS,BANTENEKSPRES.CO.ID – SMP Negeri 1 Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, sukses mencatatkan diri sebagai sekolah pelopor pengolahan limbah organik melalui inovasi Ecoenzyme P1 (Produk Pasar Kemis 1).
Berawal dari kepedulian terhadap penumpukan sampah kulit buah sisa program makan bergizi gratis, sekolah ini kini resmi ditunjuk sebagai Bank Ecoenzyme di Kabupaten Tangerang.
Tim pengembang Ecoenzyme sekolah, Eko Susanto dan Sefi Pratiwi menjelaskan, program yang dirintis sejak masa pandemi COVID-19 ini terus mengalami perkembangan signifikan.
Berkat bimbingan tim ahli dari Bappeda Kabupaten Tangerang, program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk melatih pola pikir kritis siswa.
“Setiap proses pembuatan membutuhkan waktu fermentasi selama tiga bulan. Menariknya, siswa diajak menganalisis langsung keberhasilan pembuatan cairan ini, mulai dari faktor kebersihan kulit buah hingga teknik sirkulasi udara wadah agar tidak meledak akibat penumpukan gas,” ujar Eko Susanto, Senin, 5 Oktober 2026.
Cairan hasil fermentasi kulit buah dan gula merah cair ini terbukti memiliki banyak kegunaan.
Selain dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan seperti penyemprotan udara saat Hari Bumi dan penjernihan aliran kali di sekitar sekolah, Ecoenzyme P1 juga diolah menjadi beragam produk kebutuhan sehari-hari.
Beberapa produk turunan yang berhasil dikembangkan diantaranya sabun mandi cair, sabun cuci tangan, sabun pembersih lantai, hingga produk kosmetik inovatif seperti bedak tabur padat untuk wajah.
Bahkan, kualitas produk dari sekolah ini pernah dipercaya untuk dijadikan sebagai suvenir eksklusif dalam perayaan hari ulang tahun Ecoenzyme yang diselenggarakan oleh Bappeda Kabupaten Tangerang.
Dalam kesempatan yang sama, Sefi Pratiwi membagikan tips praktis mengenali keberhasilan fermentasi Ecoenzyme.
Menurutnya, tidak semua jenis buah bergetar atau bertekstur keras (seperti nangka, pepaya tertentu, atau kelengkeng) dapat digunakan sebagai bahan baku.
Ciri-ciri Ecoenzyme yang berhasil ditandai dengan warna cairan kecokelatan cerah serta aroma fermentasi yang segar dan asam khas buah.
Sebaliknya, cairan yang gagal biasanya berwarna hitam pekat dan mengeluarkan aroma busuk akibat kontaminasi mikroorganisme luar atau kesalahan teknis wadah fermentasi.
Keberhasilan program ramah lingkungan ini turut mendapat apresiasi penuh dari Kepala SMP Negeri 1 Pasar Kemis Noor Hasanah, M.Pd., yang terus mendukung kreativitas siswa dan guru dalam mengelola sampah organik menjadi produk bernilai guna tinggi bagi masyarakat luas.
Melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan masyarakat, SMP Negeri 1 Pasar Kemis berharap inovasi Ecoenzyme P1 ini dapat terus berkembang luas serta memberikan manfaat nyata bagi kelestarian lingkungan di Kabupaten Tangerang. (*)










