Dada Tertekan Saat Olahraga, Jangan Anggap Sepele Bisa Jadi Sinyal Jantung

Dada Tertekan Saat Olahraga, Jangan Anggap Sepele Bisa Jadi Sinyal Jantung.

SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID  – Langkah kaki baru beberapa menit bergerak. Napas mulai teratur, tubuh menghangat, tetapi tiba-tiba dada terasa berat. Bukan nyeri yang menusuk atau membuat tubuh langsung ambruk, melainkan tekanan seperti ada beban yang menahan di tengah dada.

Langkah pun terpaksa dihentikan. Setelah duduk dan beristirahat beberapa menit, rasa tak nyaman itu perlahan menghilang. Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Bacaan Lainnya

Namun, kejadian serupa kembali muncul setiap kali aktivitas fisik ditingkatkan.

Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini mungkin dianggap sepele. Kurang fit, kelelahan, cuaca, atau bahkan dikira hanya akibat asam lambung. Padahal, pola dada terasa tertekan saat beraktivitas dan mereda ketika beristirahat merupakan salah satu tanda klasik angina stabil.

Kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Sebab, angina stabil bisa menjadi alarm awal adanya penyempitan pembuluh darah jantung atau penyakit jantung koroner.

Saat Jantung Kekurangan Oksigen

Angina stabil merupakan rasa nyeri, tekanan, atau ketidaknyamanan di dada yang terjadi ketika otot jantung tidak memperoleh pasokan darah kaya oksigen yang cukup saat tubuh beraktivitas.

Penyebabnya umumnya adalah penyempitan pada satu atau lebih pembuluh darah koroner yang memasok darah ke otot jantung.

Saat tubuh beristirahat, kebutuhan oksigen jantung masih relatif rendah sehingga penyempitan pembuluh darah belum tentu menimbulkan keluhan. Situasinya berbeda ketika seseorang berolahraga.

Denyut jantung meningkat dan kebutuhan oksigen ikut bertambah. Ketika aliran darah tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, muncullah rasa tertekan atau nyeri di dada.

Begitu aktivitas dihentikan, kebutuhan oksigen menurun dan keluhan biasanya ikut mereda.

Pola inilah yang menjadi ciri khas angina stabil. Ironisnya, karena rasa sakit dapat hilang dengan sendirinya, banyak orang justru merasa tidak perlu memeriksakan diri.

“Angina stabil adalah ‘lampu merah’ dari jantung. Jantung sedang memberitahu bahwa ada pembuluh darah yang menyempit dan kondisi itu perlu dievaluasi segera sebelum berkembang menjadi serangan jantung,” jelas dr. Fani Suslina Hasibuan, Sp.JP(K), FIHA, dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Konsultan Intervensi Bethsaida Hospital Serang.

Menurutnya, sejumlah pasien bahkan telah mengalami gejala angina selama berminggu-minggu sebelum akhirnya mengalami serangan jantung.

“Banyak serangan jantung terjadi pada orang yang sebenarnya sudah merasakan gejala angina berminggu-minggu sebelumnya, namun tidak mengindahkannya,” katanya.

Bukan Sekadar Nyeri Dada

Angina tidak selalu hadir dalam bentuk nyeri dada hebat. Sensasinya bisa berbeda pada setiap orang.

Sebagian merasakan dada seperti ditekan atau tertindih benda berat. Ada pula yang merasakan panas seperti terbakar dan mengiranya sebagai gangguan lambung.

Keluhan juga dapat menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, punggung, hingga perut bagian atas. Pada sebagian pasien, terutama ketika beraktivitas, keluhan utama justru berupa sesak napas atau rasa lelah yang tidak biasa.

Aktivitas yang sebelumnya mampu dilakukan dengan mudah tiba-tiba membuat tubuh cepat kehabisan tenaga.

Pada perempuan dan penderita diabetes, gejala bahkan dapat muncul secara tidak khas. Mual, pusing, atau kelelahan ekstrem bisa menjadi tanda tanpa disertai nyeri dada yang jelas.

Angina stabil juga memiliki sejumlah pemicu. Selain olahraga, keluhan dapat muncul ketika seseorang mengalami stres atau kecemasan berat, makan dalam porsi besar, terpapar cuaca dingin, maupun melakukan aktivitas setelah bangun tidur.

Karena itu, perubahan pola keluhan tubuh sekecil apa pun patut diperhatikan, terutama jika berulang dan berkaitan dengan aktivitas fisik.

Akar Masalahnya Bisa Penyakit Jantung Koroner

Angina stabil umumnya berkaitan dengan penyakit jantung koroner (PJK), yakni kondisi ketika pembuluh darah koroner menyempit akibat penumpukan plak aterosklerosis.

Plak tersebut terbentuk dari kolesterol, lemak, sel inflamasi, dan jaringan fibrosa yang menumpuk secara perlahan di dinding pembuluh darah selama bertahun-tahun.

Prosesnya sering berlangsung diam-diam. Seseorang bisa merasa sehat tanpa menyadari bahwa pembuluh darah jantungnya mulai menyempit.

Ketika penyempitan semakin signifikan dan pasokan darah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan otot jantung, tubuh mulai mengirimkan sinyal. Salah satunya melalui angina.

Di titik inilah keluhan yang tampak sederhana seharusnya tidak lagi dianggap sebagai gangguan biasa.

Kapan Harus Segera ke IGD?

Berbeda dengan angina stabil yang umumnya membaik setelah beristirahat, serangan jantung merupakan kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Waspadai apabila nyeri atau tekanan di dada terasa sangat berat, seperti diremas atau tertindih benda berat. Terlebih jika rasa tersebut menjalar ke lengan, rahang, leher, punggung, atau perut bagian atas.

Keringat dingin, mual, pusing hebat, hingga sesak napas juga patut menjadi tanda bahaya.

Keluhan yang berlangsung lebih dari 20 menit dan tidak membaik meski sudah beristirahat harus segera mendapatkan pertolongan medis. Begitu pula jika keluhan muncul untuk pertama kalinya atau pola gejalanya berubah secara tiba-tiba.

Dalam kondisi yang mengarah pada serangan jantung, kecepatan mendapatkan pertolongan sangat menentukan.

Treadmill, Melihat Kerja Jantung Saat Dibebani

Salah satu tantangan dalam mendeteksi angina stabil adalah gejalanya sering baru muncul ketika jantung bekerja lebih keras. Karena itu, pemeriksaan jantung saat istirahat tidak selalu menunjukkan kelainan.

Di sinilah pemeriksaan treadmill atau *exercise stress test* dapat membantu.

Dalam pemeriksaan tersebut, pasien berjalan di atas treadmill dengan kecepatan dan kemiringan yang ditingkatkan secara bertahap. Sementara itu, aktivitas listrik jantung melalui EKG, tekanan darah, dan kondisi pasien dipantau secara langsung.

Pemeriksaan dilakukan untuk melihat respons jantung ketika mendapat beban aktivitas sekaligus mendeteksi kemungkinan munculnya gejala atau perubahan EKG yang mengarah pada iskemia, yakni kondisi ketika aliran darah ke otot jantung tidak mencukupi.

“Treadmill Test adalah jendela yang memungkinkan kita melihat bagaimana jantung berperilaku saat bekerja keras. Banyak pasien yang EKG istirahatnya tampak normal ternyata menunjukkan perubahan bermakna saat treadmill,” ujar dr. Fani.

Menurut dia, temuan dari pemeriksaan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menentukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Jangan Tunggu Jantung Memberi Alarm Lebih Keras

Kabar baiknya, angina stabil dan penyakit jantung koroner yang terdeteksi lebih awal memiliki peluang penanganan yang lebih baik.

Perubahan gaya hidup, pengobatan, hingga prosedur intervensi dapat dilakukan sesuai kondisi dan hasil evaluasi medis. Tujuannya bukan hanya meredakan gejala, tetapi juga menekan risiko komplikasi yang lebih serius.

Karena itu, keluhan dada yang berulang saat beraktivitas sebaiknya tidak dianggap sebagai perkara sepele.

“Bethsaida Hospital Serang berkomitmen untuk memberikan akses terhadap pemeriksaan jantung yang akurat, terjangkau, dan ditangani oleh dokter spesialis terbaik. Skrining jantung dengan metode Treadmill Test dan EKG ini adalah bentuk nyata dari kepedulian kami terhadap kesehatan jantung masyarakat Banten,” kata dr. Tirta Mulya, Direktur Bethsaida Hospital Serang.

Ia menambahkan, pemeriksaan sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung. (*)

Pos terkait