Masjid Jami Kali Pasir Simbol Akulturasi Melampaui Zaman

Masjid Jami Kali Pasir Simbol Akulturasi Melampaui Zaman
Cap Masjid Kali Pasir, di Bantaran Sungai Cisadane, Kecamatan Tangerang. Foto Istimewa

TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO ID – Di balik riuhnya pusat Kota Tangerang, tepatnya di tepian timur bantaran Sungai Cisadane, berdiri sebuah monumen bisu yang merangkum ratusan tahun kerukunan antarumat beragama.

Masjid Jami Kali Pasir, yang terletak di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, bukan sekadar tempat ibadah, melainkan bukti hidup dari persaudaraan antara etnis Tionghoa dan masyarakat lokal sejak tiga abad silam.

Bacaan Lainnya

Masjid tertua di Tangerang ini memiliki keunikan visual yang mencolok. Menaranya yang menjulang tinggi justru menyerupai Pagoda, sebuah sentuhan arsitektur Tionghoa yang sangat kental.

Letaknya pun hanya sejengkal dari Klenteng Boen San Bio, mempertegas status kawasan ini sebagai laboratorium kerukunan etnis.

Mengenai usia pastinya, terdapat dua versi yang beredar. Pemerintah Kota Tangerang meyakini masjid ini berdiri sekitar tahun 1700, sementara versi lain menyebutkan angka yang lebih tua, yakni tahun 1640 Masehi.

Meski begitu, masjid ini diyakini merupakan peninggalan era Kerajaan Pajajaran yang dibangun oleh bangsawan Kahuripan Bogor dengan bantuan warga Muslim sekitar dan warga keturunan Tionghoa.

Pemerhati Sejarah Masjid Jami Kali Pasir, Haris Bayu mengungkapkan, meski masjid ini tetap berdiri kokoh, banyak nilai otentik yang perlahan memudar dimakan waktu dan modernisasi.

“Dulu masih nampak lekukan-lekukan yang indah di tembok masjid dengan ornamen bergaya Eropa, sekarang sudah ditutup keramik-keramik pelapis tembok,” ujar Haris dengan nada prihatin.

Haris menambahkan, bahwa sejumlah artefak dan benda bersejarah juga telah banyak yang hilang. Padahal, menurutnya, setiap sudut masjid ini menyimpan nilai sejarah tinggi, termasuk keberadaan makam para bangsawan kerajaan di pelataran masjid yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Bagi Haris dan warga setempat, menjaga Masjid Kali Pasir adalah menjaga identitas diri. Sebagai bagian dari “Kampung Tertua” di Kota Tangerang, upaya pelestarian menjadi harga mati agar generasi mendatang tidak kehilangan akar sejarahnya.

“Ini kan aset yang harus dijaga. Beberapa bagian sudah hilang, maka kami sebagai anak-anak keturunan ingin mempertahankan ini supaya tetap lestari,” tegas Haris.

Kini, Masjid Jami Kali Pasir tetap berdiri sebagai simbol bahwa perbedaan etnis dan budaya bukan menjadi penghalang, melainkan fondasi kokoh dalam membangun peradaban di tanah Tangerang.(*)

Pos terkait