SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang, meninjau sebanyak 22 Sekolah Dasar (SD) yang terdampak banjir, baik sekolah negeri maupun swasta pada Selasa 13 Januari 2026.
Dari puluhan SD yang terdampak banjir, mayoritas diantaranya perlu direlokasi atau dipindahkan, karena dibangun di pinggir bantaran kali membuat ketika hujan deras mengalami luapan, yang airnya masuk ke sekolah.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SD pada Dindikbud Kabupaten Serang Abidin Nasyar Surya mengatakan, dari data yang diterimanya ada 22 SD yang terdampak baik negeri maupun swasta, terkena banjir maupun longsor namun mayoritas banjir.
Kebanyakan SD terdampak banjir ini, karena lokasi bangunannya dekat dengan kali dan sungai, yang membuat ketika hujan deras luapan airnya masuk ke lingkungan sekolah.
“Saya pantau langsung ke lapangan, ada 22 SD terdampak banjir dan longsor, baik itu negeri maupun swasta, ada di Kragilan, Anyer, Cikeusal, Kibin, dan Padarincang. Ternyata, banyak sekolah dibangun di dekat kali dan sungai, ketika hujan terjadi luapan airnya masuk ke sekolah, ada juga yang drainasenya kurang bagus,” katanya kepada wartawan melalui telepon seluler kemarin, Rabu 14 Januari 2026.
Abidin mengaku, dengan melihat kondisi sekolah tersebut menurutnya ada beberapa SD perlu direlokasi, karena banjir yang dialami sekolah ini sifatnya rutin tahunan ketika musim hujan tiba.
Sehingga, pihaknya sudah mengidentifikasi pada bangunan sekolah yang berdekatan dengan kali dan sungai, untuk dilakukan pengkajian terlebih dahulu sebelum nantinya diputuskan untuk relokasi.
“Kita sudah mengidentifikasi, sekolah yang memang perlu direlokasi untuk kita kaji terlebih dahulu. Sekolah tersebut seperti, SD di Cikande, ada juga di Sunggom Jaya sama Koper itu terlalu dekat dengan Sungai Cidurian, dan SDN Cigelam langganan banjir,” ujarnya.
Meski puluhan SD terdampak banjir, kata Abidin, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) nya kini tidak terhenti atau masih tetap berjalan, namun ada juga yang melaksanakannya melalui daring atau belajar dari rumah.
Totalnya ada lima SD, yang melaksanakan KBM secara daring, karena sampai kini banjir belum juga surut dan selebihnya melaksanakannya di sekolah masing-masing sebab air sudah surut.
“Karena intensitas hujan masih tinggi, untuk bisa menjaga kewaspadaan, kami berlakukan belajar dari rumah secara daring bagi sekolah terdampak banjir. Hanya ada lima sekolah, selebihnya masih belajar di sekolah karena air sudah mulai surut,” ucapnya.
Kata Abidin, meninjau langsung ke sekolah yang terdampak banjir ini merupakan atas bimbingan dan arahan Kepala Dindikbud, dan Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah.
Sehingga, dirinya beserta jajaran langsung pantau ke lapangan untuk juga memastikan dokumen dan alat elektronik milik sekolah masih aman.
“Semua aman terkendali, tidak ada kerusakan maupun dokumen yang basah. Tapi, sementara ini belum ada sekolah yang butuh bantuan, karena masih mengidentifikasi kondisi sekolahnya,” tuturnya. (*)
Reporter : Agung Gumelar











