TIGARAKSA,BANTENEKSPRES.CO.ID – SMP Negeri 3 Tigaraksa memperketat aturan terkait perilaku berpacaran di lingkungan sekolah. Kebijakan Tersebut, diambil menyusul kekhawatiran pihak sekolah terhadap meningkatnya kasus pelanggaran tata tertib dan gangguan konsentrasi belajar akibat hubungan antar siswa yang dianggap sudah ternormalisasi.
Meski sebagian siswa mengeluhkan aturan tersebut, banyak pula yang menyambut baik karena merasa lebih nyaman di sekolah tanpa tekanan sosial dari tren pacaran. Beberapa orang tua yang telah rapat komite sekolah beberapa waktu lalu sangat mendukung kebijakan tersebut.
Kepala SMPN 3 Tigaraksa Asep Jaja mengatakan, bahwa langkah tersebut bukan sekadar penertiban, tetapi bagian dari upaya menjaga kualitas pembelajaran dan perkembangan psikologis siswa. Karena, memang sekolah tempat siswa mencari ilmu dan juga meriah prestasi. Sehingga, mereka wajib mengikuti aturan di sekolah dan bukan melanggar.
“Kami bukan ingin menjadi polisi cinta, kami hanya ingin memastikan siswa berada di sekolah untuk belajar, bukan untuk terjebak dalam dinamika hubungan yang mereka sendiri belum siap menghadapinya.”ujarnya kepada Bantenekspres.co.id di ruang kerjanya, Rabu, 10 Desember 2025.
Asep menambahkan, aturan tersebut muncul setelah guru dan wali kelas melaporkan berbagai kejadian yang mengarah pada penurunan disiplin siswa akibat hubungan pacaran. Dan itu bisa merusak fokus siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah, sehingga stop normalisasi pacaran di sekolah wajib di terapkan.
“Ada siswa yang jadi sering izin keluar kelas, siswa yang saling cemburu, bahkan beberapa yang menangis di lingkungan sekolah karena masalah pasangan. Ini jelas mengganggu proses belajar,”paparnya.
Ia menjelaskan, bahwa sebelum kebijakan diperketat, pihak sekolah telah mencoba pendekatan persuasif, namun situasi justru semakin kompleks. Aturan baru tersebut, menekankan bahwa segala bentuk interaksi fisik berlebihan, deklarasi hubungan di ruang publik sekolah, serta penggunaan kata-kata mesra selama jam belajar akan dibatasi. Namun, pendekatan yang digunakan tetap bersifat pembinaan.
“Kami tidak akan menghukum siswa hanya karena menyukai seseorang. Itu hal wajar, tetapi kami wajib mengarahkan mereka agar fokus pada tugas utama sebagai pelajar. Pendekatan kami tetap humanis.”tutupnya. (*)











