SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kekeringan di Kota Tangsel terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mencatat hingga 7 Oktober 2026 terdapat 44 titik kekeringan yang tersebar di sembilan kelurahan.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan laporan sebelumnya. Kondisi kekeringan terjadi di tengah musim kemarau yang masih berlangsung. Sejumlah wilayah bahkan mengalami kekeringan pada sumber air warga hingga sumur tidak lagi mengeluarkan air.
Penata Layanan Operasional Danton BPBD Kota Tangsel Dian Wiryawan mengatakan, berdasarkan rekapitulasi penanganan bencana kekeringan periode 8 Juli hingga 7 Oktober 2026, tercatat 44 titik terdampak.
“Update laporan rekapitulasi penanganan bencana kekeringan di Kota Tangsel periode 8 Juli 2026 sampai 7 Oktober 2026, jumlah titik kekeringan ada 44 titik,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 7 Oktober 2026.
Dian menambahkan, mayoritas titik kekeringan berada di Kecamatan Setu. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Keranggan, Kademangan, Muncul dan Setu. Selain itu, kekeringan juga terjadi di sejumlah kelurahan lainnya.
Rinciannya, 16 titik berada di Kelurahan Keranggan, satu titik di Kelurahan Serpong, 11 titik di Kelurahan Kademangan, empat titik di Kelurahan Muncul, satu titik di Kelurahan Lengkong Gudang, dua titik di Kelurahan Bakti Jaya, dua titik di Kelurahan Babakan, empat titik di Kelurahan Setu dan tiga titik di Kelurahan Buaran.
Kondisi tersebut berdampak terhadap 1.704 kepala keluarga (KK) atau sekitar 6.088 jiwa. Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, BPBD Tangsel telah mendistribusikan sebanyak 1.932.400 liter air bersih.
“Total air bersih yang kita distribusikan mencapai 1.932.400 liter,” tambahnya.
Dalam pendistribusian air bersih, BPBD Kota Tangsel mendapat dukungan kendaraan dan personel dari sejumlah pihak, di antaranya Sinar Masland, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangsel, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tangsel serta Koramil Serpong.
Dian mengatakan, setiap mobil tangki dalam sehari dapat melakukan pendistribusian air bersih hingga tiga kali kepada masyarakat yang membutuhkan. “Jadi tiap hari satu mobil tangki bolak-balik sampai tiga kali menyalurkan air bersih ke warga,” tuturnya.
Menurut Dian, kondisi kekeringan juga terjadi pada sejumlah sumur bor yang dibangun oleh dinas terkait. Bahkan, sumur bor dengan kedalaman sekitar 50 meter masih mengalami kesulitan mendapatkan sumber air, khususnya di kawasan sekitar TPA Cipeucang.
“Memang daerah di sana sulit air karena kondisi wilayah,” tutupnya. (*)









