MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Menjadi pemimpin di salah satu daerah dengan populasi terbesar di Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal inilah yang ditekankan oleh Moch Maesyal Rasyid saat memaparkan tantangan pembangunan di Kabupaten Tangerang.
Dengan jumlah penduduk yang kini mendekati angka 4 juta jiwa, Kabupaten Tangerang menempati posisi ketiga sebagai daerah dengan penduduk terbanyak se-Indonesia setelah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi.
Maesyal Rasyid merinci bahwa luas wilayah Kabupaten Tangerang mencapai 1.000,8 kilometer persegi yang mencakup 29 kecamatan, 246 desa, 28 kelurahan dan sekitar 11.000 RT/RW.
“Karena penduduknya banyak, dinamika keinginan masyarakat pasti beraneka ragam. Keanekaragaman itu perlu direspons dan dilayani oleh Pemkab Tangerang,” ujar Maesyal Rasyid saat menghadiri araca Kenduri Ramadan di Desa Tegal Kunir Kidul, Mauk, kemarin sore.
Menanggapi besarnya ekspektasi warga, Maesyal menjelaskan, pembangunan tidak bisa dilakukan secara instan dalam satu tahun.
Menurutnya, penggunaan anggaran yang bersumber dari pajak dan retribusi daerah harus dikelola secara terarah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Siapapun kepala daerahnya, jabatan 50 atau 100 tahun pun tidak akan tuntas merampungkan persoalan di Kabupaten Tangerang karena sifatnya yang dinamis. Oleh karena itu, pembangunan harus dikemas dalam rencana tahunan, lima tahun, agar terarah,” jelasnya.
Ia menekankan skala prioritas tetap mengacu pada janji saat kampanye dan hasil serap aspirasi masyarakat, terutama pada tiga sektor utama pendidikan, kesehatan dan lingkungan.
Maesyal Rasyid menegaskan meski harus dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah, konsistensi adalah kunci.
Ia berkomitmen untuk terus mendedikasikan sisa usianya untuk membenahi Kabupaten Tangerang secara perlahan namun pasti.
“Kalau belum selesai setahun, lanjut dua tahun, kalau belum selesai juga bisa tiga tahun. Yang penting amanah untuk Kabupaten Tangerang,” pungkasnya. (*)
Reporter: Zakky Adnan











