SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Sampah menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh Pemkot Tangsel sejak akhir 2025 lalu. Pasalnya, tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang di Kecamatan Serpong ditutup oleh Kementerian Lingkungan Hidup karena sudah melebihi kapasitas tampung (overload).
TPA Cipeucang saat ini mengalami kondisi darurat sampah, menyebabkan tumpukan menggunung, longsor, banjir, serta dampak bau dan kesehatan bagi warga sekitar. Dengan kondisi itu Pemkot Tangsel mengalihkan pengolahan sampah ke lokasi lain, yakni TPA Cilowong yang ada di Kota Serang dan juga ke Cileungsi Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
TPA Cipeucang ditutup karena hanya mampu menampung 300-400 ton sampah per hari, sedangkan produksi sampah Kota Tangsel mencapai 1000 ton. Bahkan, sejak akhir tahun hingga saat ini masih terjadi penumpukan sampah di berbagai lokasi di Kota Tangsel dan mengeluarkan bau yang dapat mengganggu kesehatan masyakarat.
Penutupan TPA Cipeucang ini menjadi momentum bagi masyarakat Kota Tangsel untuk mengubah sistem pengelolaan sampah dari pola lama yang tidak berkelanjutan menjadi lebih modern dengan mengurangi sampah dari sumbernya atau hulu.
Pemkot Tangsel sendiri mengajak masyarakat untuk mengolah sampah dari rumah masing-masing. Ajakan tersebut dilakukan dengan membuat flyer atau lembaran kertas berbentuk digital dengan bertuliskan “Tangsel Rumah Kita Bersama.
Menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama”.
Flyer tersebut ramai-ramai dipasang di status maupun profil pesan singkat whatsapp (WA) oleh pejabat dan pegawai di lingkup Pemkot Tangsel.
“Ini ikhtiar kita dan semua ASN untuk mempelopori gerakan perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya dalam bidang sampah,” ujar Wali Kota Benyamin Davnie, Senin, 19 Januari 2026.
Pria yang biasa disapa Pak Ben tersebut mengajak ASN dam masyarakat untuk membuat lubang biopori, harus meminimalisir penggunaan tempat-tempat makan atau minum sekali pakai, misal plastik, dan kemudian sosialisasi ke warga sekitarnya.
“Flyer yang ramai dipasang di profil dan status WA ini adalah sebagai bentuk secara total kita ingin membangun budaya bersih di Tangsel,” tambahnya.
Saat memimpin apel hari kesadaran nasional, Pak Ben mengaku juga menyampaikan kepada ASN bahwa persoalan sampah di Tangsel sekitar satu bulan terakhir harus menjadi momentum kita untuk melakukan perubahan-perubahan cara-cara kita beraktifitas.
“Misal untuk perilaku hidup bersih dan sehat, jangan buang sembarangan, bikin biopori disisa makanan itu dibuang jangan pakai sampah plastik. Kita sudah mulai penggunaan tumbler dan ASN harus mempelopori itu,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel Erik Gustaman mengatakan, “Tangsel Rumah Kita Bersama, Menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama” adalah gerakan untuk bersama-sama menjaga Kota Tangsel bebas sampah atau bersama sama bergerak untuk sadar atas sampahnya, memilah sampah sendiri.
“Ini gerakan untuk bersama sama menangani sampah,” ujarnya.
Sekarang ini tanggung jawab mengurai sampah bukan hanya menjadi kewenangam Dinas Lingkungan Hidup saja tapi, semua masyarakat. Tapi, semua orang harus membuat inovasi untuk menyelesaikan sampah.
“Kan sekarang darurat, kalau nanti sudah beres maka Tangsel akan bebas sampah. Kita saat ini bicaranya bukan TPA lagi, tapi dari sumber. Jadi TPA tetap ada untuk membuang residu saja,” tambahnya.
“Kalau tinggal residunya maka yang dibuang ke TPA akan sangat sedikit dan residunya juga bisa dibuat konblok,” tutupnya.
Ditempat terpisah, Kepala Bidang Penyelenggaraan Statustik Sektoral Dan Layanan Informasi Publik pada Dinas Komunikasi Informatika Kota Tangsel Budi Irwan Sukendar mengatakan, “Tangsel Rumah Kita Bersama, Menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama” merupakan gerakan untuk mengatasi sampah
“Ini sebagai pengingat saja agar mengatasi sampah dari rumah dan ASN harus mempelori. Kita harus peduli untuk menangani masalah ini. Kalau bukan kita yang mulai siapa lagi. Dari kita untuk kita,” singkatnya. (*)











